JAKARTA, Radarjakarta.id – Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Virus Hanta, penyakit yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya.
Virus Hanta dikenal dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius pada manusia, terutama menyerang paru-paru dan ginjal. Dalam kondisi berat, infeksi virus ini bahkan berpotensi mengancam nyawa apabila terlambat ditangani.
Motivator kesehatan sekaligus pakar kesehatan masyarakat, Jusuf Kristianto, mengatakan penyebaran Virus Hanta umumnya berkaitan dengan lingkungan yang banyak terdapat tikus, seperti gudang, pasar, area pertanian, rumah kosong, hingga lokasi dengan sanitasi kurang baik.
“Virus Hanta perlu diwaspadai karena penularannya sering tidak disadari masyarakat. Kebersihan lingkungan menjadi faktor penting untuk mencegah penyebarannya,” ujarnya pada Minggu, 10 Mei 2026.
Menurutnya, virus tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari, melainkan berasal dari paparan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup debu yang telah terkontaminasi virus dari kotoran tikus yang mengering. Selain itu, kontak langsung dengan sarang atau kotoran tikus tanpa alat pelindung juga meningkatkan risiko infeksi.
Dalam beberapa kasus, gigitan tikus yang terinfeksi dapat menjadi sumber penularan, meski kemungkinannya lebih jarang terjadi.
Gejala awal infeksi Virus Hanta biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah paparan. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot, tubuh lemas, mual, hingga muntah.
Jika kondisi memburuk, penderita dapat mengalami sesak napas, batuk, nyeri dada, gangguan ginjal, penurunan trombosit, hingga tekanan darah menurun.
Kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terpapar Virus Hanta di antaranya petugas kebersihan, pekerja gudang, petani, peternak, peneliti lapangan, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi.
Selain itu, orang yang membersihkan rumah kosong atau gudang lama tanpa menggunakan alat pelindung juga perlu lebih waspada.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, membuang sampah secara rutin, serta menghindari penumpukan barang yang dapat menjadi sarang tikus.
Warga juga disarankan menutup celah rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, dan memastikan saluran air tetap bersih.
Saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, masyarakat dianjurkan menggunakan masker, sarung tangan, dan sepatu tertutup.
Pembersihan kotoran tikus juga tidak boleh dilakukan dengan cara disapu dalam keadaan kering karena dapat membuat debu yang mengandung virus beterbangan di udara.
Cara yang dianjurkan adalah menyemprot area tersebut menggunakan disinfektan terlebih dahulu, kemudian membersihkannya dengan kain atau tisu basah.
“Lingkungan bersih menjadi kunci utama melindungi keluarga dari berbagai penyakit, termasuk Virus Hanta,” kata Dr. Jusuf Kristianto.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, nyeri otot berat, serta memiliki riwayat kontak dengan tikus atau kotorannya.
Menurutnya, deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.











