MALUT, Radarjakarta.id – Tragedi mencekam terjadi di kawasan Gunung Dukono, Halmahera Utara, Maluku Utara, setelah gunung api paling aktif di Indonesia itu mendadak memuntahkan kolom abu raksasa dan material pijar saat puluhan pendaki berada di sekitar kawah. Video detik-detik erupsi yang viral di media sosial memperlihatkan kepanikan para pendaki yang berlarian di tengah hujan abu pekat. Dalam insiden itu, tiga pendaki dilaporkan meninggal dunia, terdiri dari dua warga negara asing asal Singapura dan satu warga Indonesia asal Jayapura, sementara belasan lainnya sempat terjebak di area berbahaya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi besar terjadi pada Jumat pagi sekitar pukul 07.41 WIT dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 10 kilometer. Abu vulkanik berwarna kelabu hingga hitam mengarah ke wilayah utara dan berpotensi mengganggu permukiman hingga Kota Tobelo. Gunung Dukono sendiri masih berstatus Level II atau Waspada, namun aktivitas vulkaniknya disebut sangat fluktuatif dan bisa meletus sewaktu-waktu tanpa tanda panjang.
Operasi penyelamatan berlangsung dramatis karena tim SAR harus keluar-masuk zona aman akibat erupsi yang terus berulang. Kepala SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan pencarian dilakukan lewat jalur darat dan udara menggunakan drone dengan melibatkan lebih dari 100 personel gabungan. Hingga Sabtu malam, sebanyak 17 pendaki berhasil dievakuasi, sementara tiga korban yang diduga meninggal masih berada di area puncak karena kondisi gunung dinilai terlalu berbahaya untuk proses pengangkatan jenazah.
Fakta mengejutkan mulai terungkap setelah aparat menyebut kawasan pendakian Gunung Dukono sebenarnya telah ditutup dan larangan mendaki sudah dipasang di pintu masuk jalur pendakian. Polisi kini memeriksa pihak-pihak yang mendampingi rombongan naik ke gunung tersebut. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas wisata ekstrem demi konten media sosial. Sejumlah saksi menyebut sebagian pendaki nekat mendekati kawah untuk merekam letusan, meski sudah ada peringatan radius bahaya empat kilometer dari kawah aktif.
Pemandu ekowisata senior Aleksius Djangu mengungkapkan jalur utara yang digunakan rombongan korban memang dikenal sangat berisiko karena menjadi arah lontaran material vulkanik. Ia mengaku sudah lama menghindari jalur tersebut dan memilih jalur timur yang lebih aman. Menurutnya, banyak pendaki modern terlalu fokus mengejar video dramatis erupsi tanpa memahami tanda-tanda aktivitas gunung api. Bahkan sebelum letusan besar terjadi, ia sudah mendengar suara gemuruh tidak biasa dari kawah dan memprediksi erupsi besar akan segera terjadi.
Ahli kebencanaan dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengingatkan fenomena viral konten gunung meletus telah menciptakan “distorsi rasa aman” di masyarakat. Banyak orang merasa aman mendaki hanya karena melihat pendaki lain berhasil pulang dan mengunggah video spektakuler. Padahal, ancaman sebenarnya tetap mengintai dalam bentuk lontaran batu pijar, gas beracun, hingga erupsi eksplosif mendadak. Pemerintah pun kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan Gunung Dukono dalam radius empat kilometer demi menghindari jatuhnya korban baru.|Salhuteru*











