JAKARTA, Radarjakarta.id – Jagat media sosial diguncang kabar liar: pedangdut papan atas Dewi Perssik disebut meninggal dunia. Namun fakta justru berbanding terbalik sang artis masih aktif dan justru membongkar dugaan skenario terorganisir di balik hoaks brutal yang menyasar dirinya.
Bukan sekadar kabar bohong biasa, kasus yang menimpa Dewi Perssik berkembang menjadi dugaan serangan digital terstruktur. Ia mengungkap sedikitnya 16 akun TikTok yang diduga memainkan peran secara bergantian dalam menyebarkan narasi palsu soal kematiannya.
Modusnya terbilang rapi dan sistematis. Para pelaku memanfaatkan fitur siaran langsung untuk menciptakan efek seolah-olah peristiwa itu nyata. Ketika satu akun berhenti siaran, akun lain langsung mengambil alih membuat hoaks terus berputar tanpa jeda.
“Seperti estafet. Satu mati, yang lain muncul. Total ada sekitar 16 akun dan semuanya sudah saya rekam,” ungkap Dewi Perssik di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Yang membuat situasi semakin panas, muncul pengakuan mengejutkan dari salah satu akun. Oknum tersebut mengaku hanya menjalankan perintah pihak lain. Pernyataan ini membuka kemungkinan adanya dalang di balik operasi penyebaran hoaks tersebut.
Dewi Perssik pun mempertanyakan motif di balik aksi tersebut. Ia mengaku tidak merasa memiliki konflik pribadi, namun tetap membuka kemungkinan adanya pihak yang sengaja mengincar reputasinya.
Upaya klarifikasi langsung yang dilakukan sang pedangdut justru berujung pahit. Saat masuk ke siaran live untuk membantah kabar tersebut, ia malah dihina dan ditertawakan. Bahkan, keberadaannya dianggap sebagai “palsu” oleh para pelaku.
“Aku bilang itu aku, tapi malah dihina. Dibilang bukan Dewi Perssik,” tuturnya.
Tak berhenti di situ, narasi yang dibangun para pelaku dinilai sangat ekstrem. Mereka menyusun kronologi kecelakaan lengkap dengan visual mobil rusak dan suasana duka, sehingga tampak meyakinkan bagi penonton.
Merasa dirugikan secara serius, Dewi Perssik kini mengambil langkah tegas. Ia telah mengumpulkan seluruh bukti rekaman dan menggandeng kuasa hukum Sandy Arifin untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.
Menurutnya, perbedaan antara konten biasa dan siaran langsung berskala masif menjadi titik krusial. Jika dibiarkan, pola ini bisa menjadi celah berbahaya dalam penyebaran disinformasi digital.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia digital: hoaks kini bukan lagi sekadar unggahan, tapi bisa dikemas layaknya “pertunjukan live” yang terstruktur dan masif. Dewi Perssik memastikan tidak akan tinggal diam ia ingin efek jera nyata bagi para pelaku, sekaligus membongkar siapa sosok di balik layar yang diduga mengendalikan skenario ini.|Bagus Wirawiri*











