Haidar Alwi: Isu Overflight AS, Momentum Indonesia Perkuat Kedaulatan Udara

Apresiasi Kapolri Jenderal Sigit Soal Ketahanan Pangan, Haidar Alwi: Tidak Hanya Menjaga Negara tapi juga Menanam Masa Depan Bangsa
Apresiasi Kapolri Jenderal Sigit Soal Ketahanan Pangan, Haidar Alwi: Tidak Hanya Menjaga Negara tapi juga Menanam Masa Depan Bangsa
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Di tengah memanasnya persaingan global, ruang udara Indonesia kini ikut menjadi bagian dari percaturan strategis dunia. Ketegangan antarnegara tidak lagi hanya berlangsung di darat dan laut, tetapi juga di jalur udara, teknologi, data, dan penguasaan akses wilayah.

Dalam konteks seperti ini, langit Indonesia tidak bisa dipandang sekadar lintasan pesawat, melainkan aset kedaulatan yang menentukan keamanan nasional, posisi diplomatik, dan masa depan strategis bangsa.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Karena itu, ketika pada 12 April 2026 laporan media internasional menyoroti beredarnya proposal bertajuk Operationalizing U.S. Overflight yang dikaitkan dengan usulan akses lintas udara militer Amerika Serikat melalui wilayah Indonesia, perhatian publik wajar meningkat. Isu tersebut bukan perkara kecil, sebab setiap pembahasan mengenai akses militer asing selalu menyentuh aspek kedaulatan negara.

Sehari kemudian, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pembahasan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum menjadi keputusan final maupun mengikat. Sikap ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak bergerak secara tergesa-gesa, melainkan menempatkan kehati-hatian, pengkajian mendalam, dan kepentingan nasional sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan strategis.

Di titik inilah persoalan sesungguhnya dimulai. Isu overflight tidak seharusnya berhenti pada perdebatan setuju atau menolak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Indonesia menjadikan momentum ini sebagai pintu masuk untuk memperkuat sistem pertahanan udara, meningkatkan posisi tawar diplomatik, dan menyiapkan arah besar kedaulatan nasional di tengah rivalitas kekuatan dunia.

Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB menegaskan bahwa bangsa besar tidak diukur dari seberapa sering wilayahnya dilintasi pihak lain, tetapi dari seberapa kuat ia mengatur wilayahnya sendiri. Haidar Alwi menilai bahwa dinamika global harus dijawab dengan kecerdasan strategis, bukan kepanikan sesaat.

“Jika ada pihak melihat langit Indonesia sebagai jalur strategis, maka Indonesia harus lebih dahulu melihat langitnya sebagai sumber kekuatan nasional. Negara yang cerdas tidak hanya bereaksi terhadap tekanan, tetapi mengubah tekanan menjadi lompatan kemajuan,” tegas Haidar Alwi.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa isu overflight bukan sekadar soal akses lintas udara. Di baliknya terdapat pertanyaan yang lebih besar, yaitu seberapa siap Indonesia menjaga kedaulatan, memanfaatkan peluang kerja sama, dan tetap berdiri tegak di tengah persaingan negara-negara besar.

Isu Overflight AS dan Pentingnya Kedaulatan Udara di Era Rivalitas Global

Dalam hukum internasional, setiap negara memiliki hak penuh dan eksklusif atas ruang udara di atas wilayahnya. Di tingkat nasional, Indonesia juga memiliki perangkat hukum yang mengatur mekanisme izin, pengawasan, dan perlindungan wilayah udara sebagai bagian dari kedaulatan negara.

Prinsip ini penting dipahami agar publik melihat persoalan secara jernih: langit Indonesia bukan ruang kosong tanpa aturan, melainkan wilayah strategis yang harus dikelola dengan kewibawaan negara.

Karena itu, setiap akses yang diberikan kepada pihak asing wajib berada dalam kendali nasional, terukur, transparan, dan sepenuhnya didasarkan pada kepentingan Indonesia. Kedaulatan bukan sekadar simbol hukum, tetapi kemampuan nyata negara untuk menentukan siapa yang boleh masuk, kapan, dengan syarat apa, dan untuk tujuan apa.

Namun dalam era rivalitas global, keputusan teknis sering dibaca sebagai sinyal politik. Negara yang terlalu longgar bisa dipersepsikan condong ke satu blok. Sebaliknya, negara yang terlalu reaktif dapat kehilangan ruang diplomasi dan manfaat kerja sama. Jalan terbaik bagi Indonesia adalah bersikap tegas tanpa emosional, terbuka tanpa kehilangan kendali, serta aktif tanpa terseret kepentingan pihak lain.

“Netralitas bukan berarti pasif. Bebas aktif bukan berarti membiarkan diri dipakai. Politik luar negeri yang matang adalah kemampuan bersahabat dengan semua pihak tanpa kehilangan kendali atas kepentingan nasional sendiri,” jelas Haidar Alwi.

Karena dasar hukumnya kuat, maka yang dibutuhkan hari ini bukan kepanikan, melainkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan prinsip kedaulatan menjadi kebijakan strategis.

Dalam hal ini, publik memiliki alasan untuk optimistis terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang memiliki pengalaman panjang di bidang pertahanan dan pemahaman mendalam mengenai pentingnya kemandirian nasional.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.