Kenaikan Harga BBM Tinggal Menunggu Waktu

Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Isu kenaikan harga BBM yang viral dalam beberapa hari terakhir memang terdengar ekstrem. Angka-angka yang melonjak tajam, narasi yang menyebar cepat di media sosial, hingga kekhawatiran publik yang mulai terasa nyata.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Di tengah situasi itu, Pertamina segera memberikan respon bahwa belum ada pengumuman resmi terkait kenaikan harga BBM.

Sekilas, pernyataan itu terdengar seperti bantahan tegas. Seolah-olah isu yang beredar tidak berdasar. Namun jika dicermati lebih dalam, kalimat tersebut menyimpan celah yang sangat besar.

Pertamina tidak mengatakan bahwa harga tidak akan naik. Mereka hanya mengatakan belum ada pengumuman resmi. Dan di situlah letak persoalannya. Publik ditenangkan, tetapi tidak benar-benar diberi kepastian.

Respon ini bukan sekadar klarifikasi, melainkan bagian dari pola komunikasi yang lebih besar. Pemerintah, melalui Menteri ESDM, juga menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi mengikuti pasar global.

Artinya, arah kebijakan sebenarnya sudah sangat jelas. Ketika harga minyak dunia naik, maka harga BBM nonsubsidi hampir pasti akan ikut menyesuaikan. Ini bukan spekulasi, ini logika dasar yang berulang setiap kali terjadi gejolak energi global.

Jika dua pernyataan ini disatukan—“belum ada pengumuman” dan “mengikuti pasar global”—maka kesimpulan yang muncul tidak lagi abu-abu. Kenaikan harga BBM bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan yang tinggal menunggu waktu. Yang belum ada hanyalah momen resmi untuk mengumumkannya ke publik.

Di sinilah publik sebenarnya sedang berada dalam fase transisi yang tidak disadari. Isu viral yang beredar memang bisa jadi tidak akurat dalam angka, tetapi arah besarnya tidak sepenuhnya salah. Ia menangkap sesuatu yang memang sedang bergerak di balik layar. Tekanan harga energi global, beban fiskal, dan kebutuhan pemerintah untuk menyesuaikan harga secara bertahap.

Namun alih-alih menjelaskan situasi ini secara terbuka, yang terjadi justru sebaliknya. Komunikasi publik dibuat setengah terang. Cukup untuk meredam kepanikan, tetapi tidak cukup untuk memberikan gambaran utuh. Tidak ada simulasi harga realistis, tidak ada skenario resmi yang dipaparkan, tidak ada transparansi tentang seberapa besar tekanan yang sebenarnya dihadapi negara.

Akibatnya, publik dibiarkan berada di antara dua kondisi. Takut karena isu yang beredar, tapi juga tenang karena bantahan resmi. Ini bukan kondisi yang sehat, melainkan bentuk pengelolaan persepsi, di mana masyarakat diarahkan untuk tetap stabil hari ini, sambil perlahan disiapkan menerima perubahan besar besok.

Lebih jauh lagi, pembiaran terhadap isu ekstrem justru bisa menjadi alat yang efektif. Ketika angka-angka liar beredar tanpa koreksi yang kuat, maka ekspektasi publik ikut naik.

Dan ketika nanti harga resmi diumumkan, meskipun tetap naik, angka tersebut akan terasa lebih “ringan” dibanding rumor yang sudah terlanjur tinggi.

Ini bukan sekadar kebetulan komunikasi, tapi strategi yang sering digunakan dalam pengelolaan kebijakan sensitif.

Sementara itu, narasi “mengikuti pasar global” menjadi tameng yang semakin sering digunakan. Dengan cara ini, kenaikan harga diposisikan sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, bukan sebagai keputusan politik.

Padahal kenyataannya, pemerintah tetap memiliki ruang untuk menentukan timing, skema, dan besaran kenaikan. Menyederhanakan semuanya sebagai mekanisme pasar adalah bentuk pengaburan tanggung jawab.

Yang paling jujur dari seluruh situasi ini justru bukan pernyataan resmi, melainkan pola yang bisa dibaca. Harga minyak dunia tinggi, tekanan fiskal meningkat, komunikasi dibuat hati-hati, dan isu mulai bermunculan. Ini adalah fase klasik sebelum kenaikan diumumkan.

Publik seharusnya tidak lagi terjebak pada pertanyaan “apakah BBM akan naik”. Pertanyaan yang lebih relevan sekarang adalah kapan pemerintah merasa cukup siap secara politik untuk mengumumkannya.

Karena pada akhirnya, yang sedang terjadi hari ini bukanlah bantahan terhadap kenaikan harga BBM. Ini hanyalah penundaan pengumuman. Dan di balik semua kalimat yang terdengar menenangkan, satu kenyataan tetap berdiri. Kenaikan itu tinggal menunggu waktu.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.