JAKARTA, Radarjakarta.id – Sorotan tajam kembali mengarah ke aktris kontroversial Nikita Mirzani. Dari balik sel Rutan Pondok Bambu, kabar mengejutkan muncul: kondisi kesehatannya dikabarkan menurun drastis hingga harus mendapatkan perawatan intensif berupa infus.
Situasi ini mencuat di tengah status hukumnya yang telah berkekuatan tetap, setelah Mahkamah Agung menolak kasasi atas kasus pemerasan dan pencucian uang yang menyeretnya. Vonis enam tahun penjara kini bukan hanya menjadi tekanan hukum, tetapi juga disebut berdampak langsung pada kondisi fisik dan mental sang artis.
Kondisi terkini Nikita terungkap setelah kunjungan politisi Rieke Diah Pitaloka pada 19 Maret 2026. Dalam keterangannya, Rieke menyebut Nikita terlihat “drop”, suhu tubuhnya meningkat, dan tengah menjalani terapi cairan melalui infus. Ia juga menegaskan pentingnya perhatian terhadap hak dasar narapidana, terutama dalam aspek kesehatan.
Pihak rutan membenarkan adanya tindakan medis tersebut, namun menegaskan bahwa kondisi vital Nikita masih dalam batas aman. Infus disebut sebagai langkah standar untuk mengatasi dehidrasi dan penurunan kondisi tubuh, meski pengawasan medis kini dilakukan lebih ketat.
Di sisi lain, badai hukum belum berhenti. Kuasa hukum Nikita mengungkap kerugian ekonomi yang disebut mencapai ratusan miliar rupiah akibat terhentinya berbagai kontrak bisnis. Gugatan perdata pun dilayangkan kepada Reza Gladys, dengan nilai klaim fantastis yang bisa menembus Rp300 miliar.
Namun, tuduhan itu langsung dibantah. Pihak Reza justru bersiap melancarkan serangan balik melalui gugatan pencemaran nama baik, membuka babak baru konflik hukum yang diprediksi akan berlangsung panjang dan panas hingga pertengahan 2026.
Kasus ini tak hanya menjadi drama personal, tetapi juga memicu perhatian publik dan aktivis HAM. Isu kesehatan narapidana kembali mencuat, mendorong Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk turun tangan melakukan inspeksi independen dalam waktu dekat.
Di tengah tekanan hukum, kondisi kesehatan, dan kerugian finansial, simpati publik pun terbelah. Sebagian mengirim doa dan dukungan, sementara lainnya menyoroti konsekuensi dari proses hukum yang dijalani. Satu hal yang pasti: kisah Nikita Mirzani kini bukan sekadar kasus hukum, melainkan potret kompleks antara kekuasaan, popularitas, dan harga mahal yang harus dibayar.***











