INTERNASIONAL, Radarjakarta.id – Teheran memasuki fase paling genting dalam sejarah modernnya. Ali Khamenei dilaporkan gugur dalam serangan udara yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel di ibu kota Iran, Sabtu (28/2/2026). Kabar tersebut memicu gelombang reaksi berantai dari Timur Tengah hingga Washington.
Pemerintah Iran bergerak cepat. Dalam hitungan jam, struktur darurat dibentuk untuk memastikan tidak ada kekosongan komando di pucuk tertinggi Republik Islam.
Arafi Muncul di Tengah Krisis
Nama Alireza Arafi langsung mengemuka. Ulama kelahiran Meybod, Provinsi Yazd, 1959 itu dipercaya menjadi figur sentral dalam Dewan Kepemimpinan Sementara.
Penunjukan ini merujuk pada Pasal 111 Konstitusi Iran, yang mengatur mekanisme transisi jika kursi Pemimpin Tertinggi kosong. Bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei, Arafi kini memegang mandat strategis negara — mulai dari arah militer, kebijakan keamanan, hingga garis ideologi.
Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional, menandai besarnya dampak politik dan emosional atas peristiwa ini.
Jejak Kuat di Lingkar Kekuasaan
Arafi bukan sosok baru dalam arsitektur kekuasaan Iran. Ia tumbuh dalam tradisi ulama yang disebut memiliki kedekatan historis dengan pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.
Kariernya dibangun lewat jalur kelembagaan dan pendidikan keagamaan, bukan politik elektoral. Ia tercatat sebagai:
Anggota Guardian Council sejak 2019
Imam Salat Jumat di Qom
Kepala jaringan seminari nasional Iran sejak 2016
Mantan Presiden Universitas Internasional Al-Mustafa (2008–2018)
Melalui jaringan pendidikan global tersebut, Arafi memperluas diplomasi keagamaan Iran dan memperkuat pengaruh Syiah lintas negara.
Dalam berbagai pidato, ia dikenal vokal terhadap Amerika Serikat, bahkan pernah menyebutnya sebagai “pusat pelanggaran hak asasi manusia”. Sikap keras terhadap tekanan penghentian program militer Iran menjadi salah satu ciri retorikanya.
Assembly of Experts di Ujung Penentu
Suksesi Pemimpin Tertinggi Iran tidak ditentukan lewat pemilu langsung. Otoritas ada pada Assembly of Experts, dewan berisi 88 ulama senior yang dipilih rakyat setiap delapan tahun.
Namun prosesnya tetap berlapis. Kandidat anggota majelis lebih dulu disaring oleh Guardian Council, lembaga yang sebagian anggotanya ditunjuk pemimpin tertinggi sebelumnya. Sistem ini dirancang untuk menjaga kesinambungan ideologi Revolusi Islam 1979.
Kriteria calon Pemimpin Tertinggi meliputi:
Penguasaan mendalam atas fiqh dan syariat Syiah
Integritas moral dan religius
Kapasitas politik dan administratif tingkat tinggi
Hingga keputusan final diumumkan, Dewan Kepemimpinan Sementara memegang kendali penuh atas negara.
Momen Paling Menentukan Sejak Revolusi
Kepergian Khamenei menjadi titik balik terbesar sejak Revolusi Islam 1979. Arah kebijakan Iran ke depan kini menjadi teka-teki global: apakah akan memperkuat garis keras, atau membuka konfigurasi baru dalam diplomasi dan keamanan kawasan?
Untuk sementara, Alireza Arafi berdiri di episentrum krisis menjaga stabilitas internal di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Iran berduka.
Timur Tengah bergolak.
Dunia menanti langkah berikutnya.











