JAKARTA , Radarjakarta.id – Rumah produksi Heart Pictures mengangkat mitos horor Korea sebagai dasar cerita film horor terbarunya berjudul Tolong Saya! (Dowajuseyo). Pendekatan tersebut dibahas dalam talkshow urban culture bertajuk “Mitos Horor Korea dalam Film Tolong Saya! (Dowajuseyo)” yang digelar di CGV FX Sudirman, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian promosi menjelang penayangan film Tolong Saya! (Dowajuseyo) yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2026.
Produser Eksekutif Heart Pictures, Herty Purba, mengatakan pemilihan genre horor sebagai proyek debut rumah produksi tersebut dilakukan melalui pertimbangan matang, baik dari sisi pasar maupun tantangan biaya produksi film.
“Produksi film membutuhkan biaya besar. Karena ini debut kami, genre yang dipilih harus benar-benar dipikirkan. Dalam satu hingga dua tahun terakhir, animo penonton terhadap film horor sangat tinggi,” ujar Herty.
Meski mengusung genre horor, Heart Pictures menegaskan film ini tidak sekadar mengikuti tren. Tolong Saya! (Dowajuseyo) dikembangkan dengan pendekatan cerita yang berbeda, berangkat dari pengalaman nyata seseorang yang pernah menempuh pendidikan di Korea dan mengalami kejadian mistis.
“Ceritanya terinspirasi dari pengalaman melihat sosok seperti hantu yang seolah menatap dan meminta tolong. Dari situ cerita ini berkembang,” katanya.
Menurut Herty, penguatan narasi dilakukan melalui riset mendalam terhadap budaya Korea, khususnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia spiritual dan mitologi horor yang hingga kini masih diyakini.
“Masyarakat Korea masih percaya pada arwah gentayangan, kesurupan, atau roh pembawa kesialan. Ketika mengalami hal buruk, sebagian orang mendatangi orang pintar atau melakukan ritual tertentu,” ujarnya.
Ia juga menyinggung praktik peramal atau fortune teller yang dikenal luas di Korea dengan sebutan home chat, yang dipercaya mampu membaca potensi kesialan maupun keberuntungan seseorang.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pemeran film Tolong Saya! (Dowajuseyo), Kim Geba atau dikenal sebagai Bung Korea, yang menyebut kepercayaan terhadap mitos dan roh masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Korea.
“Kepercayaan itu tidak hanya hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sering menjadi inspirasi cerita film dan program televisi Korea,” kata Kim.
Pemilihan Korea Selatan, khususnya Busan, sebagai lokasi syuting juga mendapat dukungan dari berbagai institusi setempat, sehingga mempermudah proses produksi di sejumlah lokasi yang umumnya sulit diakses.
“Syuting di universitas, rumah sakit, atau fasilitas umum biasanya rumit dan mahal. Namun di Busan kami mendapat banyak bantuan sehingga produksi berjalan lancar,” ujar Herty.
Dalam film ini, Kim Geba berperan sebagai seorang dokter dan bahkan datang langsung ke Indonesia untuk mendalami karakter yang dimainkannya.
“Dia sangat total memerankan perannya sebagai dokter,” tambah Herty.
Meski bergenre horor, film ini dikemas relatif ramah bagi penonton remaja dengan klasifikasi usia 13 tahun ke atas.
“Ini bukan horor penuh darah. Sebagai seorang ibu, saya ingin film ini tetap aman ditonton remaja,” katanya.
Selain unsur hiburan, film Tolong Saya! (Dowajuseyo) juga menyisipkan pesan edukatif, khususnya bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
“Ada pesan agar pelajar Indonesia yang sekolah di luar negeri tetap berhati-hati, fokus pada pendidikan, dan membawa nilai-nilai yang membanggakan orang tua,” ujar Herty.
Talkshow tersebut turut menghadirkan Euis Sulastri, M.A., Ph.D., dosen Program Studi Bahasa dan Budaya Korea Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, yang mengulas mitos horor Korea dari perspektif akademik. Diskusi dipandu oleh Dion sebagai moderator.
Film horor Tolong Saya! (Dowajuseyo) dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 Januari 2026.











