Refleksi Sumpah Pemuda (Catatan Kecil Perjalanan Waktu)

Aktivis Front Pancasila Jakarta, Edysa Girsang.
banner 468x60

Oleh: Edysa Girsang
Aktivis Front Pancasila Jakarta

Awal-awal 90-an kaum muda berkesadaran atas situasi dengan latar belakang mulai membangun gerakan mahasiswa di kampus-kampus walau akhirnya membuat mereka “dikucilkan”.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dan saat 98 gerakan mahasiswa menjadi “seksi”. Dimana kini romantisme itu bisa jadi kendaraan politik.

“Berteman 1 bulan, kirim ramsum bisa tahunan”. Kata-kata yg terlontar saat itu jika berteman dengan aktivis mahasiswa. Yang akhirnya membuat organisasi-organisasi perlawan mahasiswa bertumbuh di kampus-kampus besar maupun kecil.

Ada sebait syair yang dulu sering berkumandang ketika membangun kesadaran massa mahasiswa dalam aksi-aksi demontrasi di jalan-jalan dan gedung-gedung pemerintah:
“Kami berjanji pada rakyat, kemiskinan pasti hilang”.
Kaum rakyat berkuasa, zaman baru pasti datang… ayo ayo bergerak.”

Dalam perspektif diskusi-diskusi pada saat itu, yang kini tak lagi jadi materi fundamental “Kenapa rakyat harus berlawan?” Kerena adanya sistem yang mengeksploitasi, menghisap, menindas, dan tak berkeadilan sosial.

Kolonialisasi baru kaum modal menggunakan tangan-tangan kekuasaan menyebabkan kemiskinan dan kebodohan akut menghiasi kehidupan mayoritas rakyat kebanyakan yang nantinya mudah digiring atau dikanalisasi bagi kekuasaan dan modal (oligarki).

80 tahun Republik Indonesia merdeka belum mampu membangun rakyat merdeka atas dirinya di atas tanah tumpah darahnya agar melahirkan pemerintahan yang melindungi, menyejahterakan dan mencerdasan tumpah darah dan bangsa Indonesia.

Jawaban atas tantangan ini yang nantinya akan membawa Indonesia menjadi salah satu Negara beradab di dunia.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.