JAKARTA, Radarjakarta.id – Tim Pelindungan Bahasa dan Sastra Kantor Bahasa Provinsi Banten, sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) di SMP Putra Satria, Petukangan Utara.
Kegiatan ini disambut hangat oleh pihak sekolah, termasuk Kepala Sekolah Johan Wahyudi, Wakil Kepala Sekolah Fadla Hayati, Guru Bahasa Indonesia Rodi Sahrono, serta Guru Utama RBD Abdul Aziz.
Kunjungan yang berlangsung pada Jumat (10/10) di Jl. Ciledug Raya No. 46 RT. 006/004, Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, ini dimulai dengan beragam penampilan budaya Betawi. Para siswa mempresentasikan buka palang pintu, pencak silat beksi, serta rebana gadigdug yang diselingi pantun-pantun teka-teki khas Betawi.
“Penampilan tersebut menunjukkan semangat pelestarian budaya lokal yang tumbuh di lingkungan sekolah,” ungkap Nur Seha, Widyabasa Ahli Muda dari tim, yang didampingi Flora Sinamo, Widyabasa Ahli Pertama.
Selain itu, tim mengunjungi sanggar Betawi di sekolah yang menjadi wadah pengembangan seni dan bahasa Betawi bagi siswa. Keberadaan sanggar ini mendapat dukungan penuh dari yayasan dan kepala sekolah, sebagai komitmen nyata terhadap pelestarian bahasa daerah. “Kami senang sekali dengan program pelestarian bahasa dan budaya Betawi yang dilakukan SMP Putra Satria. Kami berharap sikap positif terhadap bahasa daerah, khususnya Betawi, dapat berdampak pada pelindungan bahasa Betawi yang kini mengalami penurunan penutur di Jakarta,” jelas Nur Seha.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti kolaborasi efektif antara sekolah, guru, dan lembaga pelindungan bahasa. “Kolaborasi tersebut dapat memperkuat upaya menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Betawi di tengah masyarakat modern,” tegasnya.
Senada, Kepala Sekolah Johan Wahyudi berharap kunjungan ini menjadi pemantik bagi kegiatan kearifan lokal, khususnya seni budaya Betawi di SMP Putra Satria. “Semoga sanggar kami menjadi sekolah pilot project di DKI Jakarta dan berperan sebagai duta budaya Betawi di tanah kelahiran sendiri. Karena jika budaya bahasa daerah, khususnya Betawi, dilupakan, maka akan tergers oleh zaman digital,” ujarnya.
Untuk mengenalkan budaya Betawi, sekolah telah memasukkan materi tersebut ke dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP), yaitu Muatan Lokal Pendidikan Seni Budaya Jakarta (Mulok PSBJ). Program ini mengacu pada literasi buku yang dipadukan dengan modul pembelajaran hak cipta karya sanggar Putra Satria.
Melalui monev ini, Kantor Bahasa Banten dan SMP Putra Satria berkomitmen memperkuat pelestarian bahasa daerah, memastikan generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya Betawi di tengah arus modernisasi.










