Fenomena “Stop Tot Tot Wuk Wuk”: Pejabat Dilarang Semena-mena di Jalan

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Suara sirene, strobo, dan rotator “Tot Tot Wuk Wuk” yang selama ini kerap bikin jalanan gaduh akhirnya diprotes habis-habisan publik. Gerakan “Stop Tot Tot Wuk Wuk di Jalan” kini meledak di media sosial, melahirkan gelombang penolakan besar terhadap arogansi pengguna jalan, terutama pejabat yang seenaknya menguasai aspal.

Tagar hingga stiker protes bertuliskan “Stop Sirene dan Strobo” kini menghiasi kendaraan masyarakat. Pesannya jelas: sirene hanya milik ambulans, pemadam kebakaran, dan kendaraan darurat, bukan pajangan pejabat sok kuasa.

Ledakan suara publik ini langsung mengguncang Istana. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi turun tangan menegaskan pejabat publik tak boleh semena-mena memakai fasilitas sirine dan strobo.

“Jangan digunakan melampaui batas wajar. Kita harus menghormati pengguna jalan lain,” tegasnya di Kompleks Istana, Jumat (19/9).

Prasetyo bahkan mencontohkan Presiden Prabowo Subianto yang disebut kerap memberi teladan: ikut bermacet-macet, berhenti di lampu merah, dan tidak selalu menggunakan sirine.

“Bapak Presiden sering tidak pakai sirine, bahkan ikut berhenti saat lampu merah. Itu semangatnya,” imbuhnya.

Dukungan terhadap gerakan rakyat ini juga datang dari Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho. Tak tanggung-tanggung, ia langsung membekukan pengawalan sirene dan strobo di jajarannya.

“Saya sudah hentikan pengawalan dengan suara-suara itu. Kita terima kasih kepada masyarakat, cukup, stop Tot Tot Wuk Wuk lagi!” tegas Agus di Mabes Polri.

Fenomena “Stop Tot Tot Wuk Wuk” membuktikan keresahan rakyat terhadap budaya arogansi di jalan. Kini, publik menunggu: apakah pejabat benar-benar siap berhenti sok kuasa di jalan raya, atau masih ingin menyalakan lampu kuasa mereka?***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.