Nasaruddin Umar Minta Maaf Soal Ucapannya Tentang Guru Jadi Viral

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Publik dibuat geger! Pernyataan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tentang profesi guru sontak memicu badai kontroversi. Ucapannya yang menyinggung “jangan jadi guru kalau mau cari uang, jadilah pedagang” viral di media sosial dan menuai reaksi keras dari berbagai kalangan pendidik di seluruh Indonesia.

Menyadari pernyataannya menyulut emosi, Menag akhirnya angkat suara. Dengan nada serius, ia menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka.

“Saya menyadari potongan pernyataan saya menimbulkan tafsir keliru dan melukai hati sebagian guru. Tidak ada sedikit pun niat saya merendahkan profesi guru. Justru saya sangat menghormati kemuliaan guru,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers, Rabu (3/9/2025).

Meski sudah meminta maaf, kontroversi ini telanjur menjadi perbincangan nasional. Banyak pihak menilai pernyataan Menag telah menyinggung perasaan para tenaga pendidik yang selama ini berjuang dengan penghasilan terbatas.

Menag: Saya Juga Guru, Saya Paham Kesejahteraan Itu Penting

Nasaruddin menegaskan dirinya juga seorang pendidik. “Puluhan tahun hidup saya di ruang kelas. Saya tahu betul guru bukan hanya butuh penghormatan, tapi juga kesejahteraan yang layak,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru. Data Kemenag menunjukkan:

227.147 guru non-PNS telah menerima kenaikan tunjangan profesi, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.

206.411 guru sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) sepanjang 2025, naik 700% dibanding 2024.

52 ribu guru honorer berhasil diangkat menjadi PPPK dalam tiga tahun terakhir.

“Semua ini adalah bukti negara hadir untuk guru. Kita ingin martabat mereka dijaga, karena dari tangan merekalah lahir masa depan bangsa,” tegas Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

Viral: Guru vs Pedagang

Kutipan Menag yang paling menyulut kontroversi adalah kalimat:

“Kalau mau cari uang, jangan jadi guru. Jadi pedaganglah.”

Pernyataan itu dipotong, diviralkan, dan ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap profesi guru. Padahal, menurut Nasaruddin, maksud sebenarnya adalah menekankan bahwa guru adalah profesi mulia dan panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah.

Guru Pahlawan, Negara Wajib Hadir

Menutup klarifikasinya, Menag kembali mengangkat martabat pendidik:

“Guru bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan jiwa. Karena kemuliaan itu, negara wajib hadir memperhatikan kesejahteraannya. Mari kita jaga martabat guru, sebab dari tangan merekalah masa depan bangsa lahir dan tumbuh.”

Berita ini sontak menjadi sorotan nasional. Satu ucapan Menag telah mengguncang jagat maya, memantik kritik, sekaligus membuka ruang diskusi besar soal nasib dan kesejahteraan guru di Indonesia.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.