RADAR JAKARTA|Jakarta – Gelombang penolakan terhadap wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto semakin menguat. Ratusan aktivis reformasi 1998 dan pejuang demokrasi lintas generasi menggelar aksi tabur bunga di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, Rabu (21/5), sebagai bentuk refleksi perjuangan Reformasi dan simbol perlawanan terhadap glorifikasi masa Orde Baru.
Dalam aksi ini, hadir para tokoh dari berbagai kampus dan latar belakang gerakan, seperti Wanto Sugito alias Bung Klutuk (UIN Jakarta), Jimmy Fajar Jimbong (ISTN), Mustar Bonaventura (UKI), Simson Simanjuntak (Unika Medan), Agung (APP), Cesare (USNI), dan lainnya.
“Kami menolak tegas wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Ini penghinaan terhadap jutaan korban dan rakyat yang berjuang melawan kediktatoran,” tegas Wanto Sugito dalam orasinya.
Menurut Wanto, Soeharto adalah simbol rezim otoriter yang selama 32 tahun membungkam demokrasi, menindas rakyat, dan melanggengkan sistem militeristik. Pemberian gelar pahlawan kepada tokoh semacam itu, katanya, justru mencederai semangat Reformasi dan pengorbanan para aktivis yang telah gugur.
“Reformasi bukan hanya peristiwa sejarah, tapi semangat yang harus terus dijaga. Tabur bunga ini bukan seremoni, ini pernyataan sikap: kami tidak lupa dan tidak akan diam!” tambahnya.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa bangsa ini masih memiliki luka sejarah yang belum sembuh, dan menuntut agar sejarah tidak dipelintir demi kepentingan politik tertentu. (*)
Tolak Soeharto Jadi Pahlawan! Aktivis 98 Tabur Bunga di TPU sebagai Simbol Perlawanan










