JAKARTA, RadarJakarta.id – Lama tak terdengar kabarnya di dunia hiburan, pesinetron Alexandria kembali hadir dengan langkah baru di industri perfilman. Kali ini, ia tidak tampil di depan kamera, melainkan dipercaya sebagai Executive Producer untuk dua film horor berjudul Penari Ronggeng Hitam dan Tumbal Cinta Berdarah yang diproduksi di bawah naungan Alexandria Film.
Alexandria mengaku sengaja tidak ikut berperan sebagai pemain karena tengah fokus mengembangkan bisnisnya di Sumatera Selatan, sementara proses syuting kedua film berlangsung di Bandung, Jawa Barat.
“Biasanya saya menjadi pemain. Tapi di film produksi saya kali ini, saya memilih tidak ikut berakting dan fokus sebagai Executive Producer. Saat ini saya juga sedang disibukkan dengan bisnis di Sumatera Selatan, sedangkan lokasi syuting berada di Bandung,” ujar Alexandria kepada wartawan hiburan di Jakarta.
Pemeran sejumlah sinetron dan FTV tersebut mengatakan, peran sebagai Executive Producer menuntut kreativitas tinggi dalam menghadirkan karya yang mampu menarik perhatian penonton.

“Sebagai Executive Producer, kita harus berpikir kreatif, bahkan out of the box. Bagaimana caranya membuat film yang berbeda dari yang lain dan memiliki sesuatu yang membuat penonton terkesan,” katanya.
Alexandria memilih genre horor karena dinilai masih menjadi salah satu genre favorit masyarakat Indonesia.
Menurutnya, film horor memiliki pangsa pasar yang luas, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Namun, ia menegaskan bahwa kedua film garapannya tetap menawarkan cerita yang berbeda agar mampu bersaing di tengah maraknya film horor nasional.
“Film horor hampir selalu mendapat respons yang baik dari penonton. Itulah salah satu alasan saya memproduksi genre ini. Meski begitu, kami tetap berupaya menghadirkan alur cerita yang menarik dan memiliki ciri khas tersendiri,” ungkapnya.
Naskah kedua film tersebut ditulis oleh Bubu Wijaya dan akan tayang melalui kanal YouTube Alexandria dengan durasi sekitar satu jam.
Alexandria menilai YouTube menjadi platform yang tepat karena mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat.
“Kami memilih YouTube karena platform ini sangat mudah dijangkau siapa saja, sehingga film bisa dinikmati lebih luas,” jelasnya.
Ia juga mengakui persaingan industri hiburan digital semakin ketat, terutama dengan banyaknya drama Korea (Drakor) dan drama China (Dracin) yang memiliki penggemar besar di Indonesia.
Meski demikian, Alexandria justru menjadikan kondisi tersebut sebagai motivasi untuk terus menghadirkan karya berkualitas.
“Banyaknya Drakor dan Dracin yang diminati masyarakat menjadi tantangan bagi kami sebagai sineas Indonesia. Kami ingin terus menghasilkan film yang lebih baik agar masyarakat semakin bangga dan tertarik menonton karya anak bangsa,” pungkasnya.
Kedua film tersebut dijadwalkan segera hadir di kanal YouTube Alexandria dan diharapkan dapat menjadi alternatif tontonan horor yang menyuguhkan cerita segar bagi para penikmat film Indonesia.










