WASHINGTON, Radarjakarta.id — Dunia kembali gempar! Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggebrak meja diplomasi global dengan pernyataan paling tajam sepanjang masa kepemimpinannya. Dalam pertemuan resmi dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb di Gedung Putih, Kamis (9/10/2025), Trump secara terbuka menyerukan agar Spanyol dikeluarkan dari keanggotaan NATO.
Pernyataan itu muncul setelah Spanyol menolak memenuhi target baru NATO untuk menaikkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) kebijakan yang diklaim Trump sebagai hasil dorongan pribadinya dalam KTT NATO di Den Haag.
“Kami punya satu negara yang tertinggal Spanyol! Mereka tak punya alasan untuk menolak. Mungkin sebaiknya mereka disingkirkan saja dari NATO, terus terang,” tegas Trump lantang di hadapan Stubb.
Trump Tekan Sekutu Eropa: Bayar atau Keluar
Trump, yang dikenal keras terhadap sekutu yang dianggap “menumpang perlindungan” Amerika, kini kembali menghidupkan tensi lama di tubuh aliansi militer terbesar dunia itu. Sejak kembali ke Gedung Putih awal 2025, Trump menjadikan peningkatan belanja militer Eropa sebagai prioritas absolut.
Pada KTT Den Haag bulan Juni lalu, ia berhasil membuat seluruh anggota NATO kecuali Spanyol menyetujui peningkatan drastis anggaran pertahanan menjadi 5% dari PDB hingga tahun 2035. Trump bahkan menyebut pertemuan tersebut sebagai “yang paling solid dan produktif dalam sejarah NATO.”
Namun, Madrid menjadi duri dalam daging. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara terbuka menolak target itu. “Target 5% tidak sesuai dengan visi negara sejahtera dan nilai kemanusiaan kami,” tegas Sanchez.
Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles pun menolak keras tuntutan tersebut, menyebut target itu “tidak realistis dan mustahil dicapai” karena industri pertahanan Eropa kekurangan tenaga ahli dan bahan baku.
Dampak Geopolitik: NATO di Ambang Retak Besar
Komentar pedas Trump langsung mengguncang internal NATO. Sejumlah negara Eropa dilaporkan mulai cemas akan ancaman retaknya solidaritas aliansi, terutama di tengah tekanan ekonomi akibat perang Ukraina dan perlambatan global.
Beberapa pemimpin Eropa menilai langkah Trump berpotensi menghidupkan kembali politik unilateral Amerika, di mana Washington bertindak sepihak untuk menekan sekutu.
Sementara itu, Slovakia dan sejumlah negara kecil Eropa Timur juga mengaku kesulitan menyesuaikan diri dengan target 5% PDB tanpa mengorbankan sektor lain seperti kesehatan dan pendidikan.
Latar Belakang Panas: Spanyol dan Sikap Anti-Israel
Ketegangan ini kian membara setelah pemerintah Spanyol memberlakukan larangan ekspor-impor peralatan militer dan teknologi pertahanan ke Israel, sebagai bentuk protes atas agresi di Gaza.
Kebijakan itu memicu ketegangan diplomatik antara Washington dan Madrid, mengingat AS adalah sekutu utama Israel.
Analis menilai kebijakan anti-Israel Spanyol turut memanaskan hubungan dengan Trump yang dikenal sangat pro-Tel Aviv.
Analisis: NATO di Persimpangan Sejarah
Langkah Trump ini dianggap sebagai ujian terbesar bagi masa depan NATO. Jika ancaman Trump benar-benar dijalankan, maka dunia bisa menyaksikan keluarnya anggota besar Eropa Barat dari aliansi militer paling berpengaruh di dunia sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.
Para pengamat menilai, “Trump Effect” kembali mengguncang panggung geopolitik global, menandai babak baru dalam hubungan trans-Atlantik antara Amerika dan Eropa.
“Trump bukan hanya berbicara soal uang ini soal dominasi,” ujar seorang analis politik internasional di Washington. “Ia ingin menunjukkan bahwa tanpa Amerika, NATO hanyalah nama kosong.”|***











