Terisolir! Mualem Khawatir Warganya Meninggal Kelaparan Bukan Karena Banjir

banner 468x60

ACEH, Radarjakarta.id — Situasi Aceh memasuki fase darurat kritis. Setelah banjir bandang dan longsor melumpuhkan akses di berbagai wilayah, Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jajaran: percepat distribusi bantuan atau warga akan meninggal karena kelaparan. Mualem menegaskan bahwa kondisi lapangan semakin memprihatinkan, terutama di daerah pedalaman yang hingga kini belum menerima logistik.

Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah hingga Gayo Lues menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Banyak desa terisolir total tanpa akses darat, membuat penyaluran bantuan hanya bisa dilakukan melalui udara menggunakan Hercules, helikopter, atau perahu karet. Pemerintah Aceh memastikan alat berat dan tim gabungan telah bergerak membuka jalur yang terputus, namun prosesnya masih jauh dari kata cukup.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Mirisnya, tumpukan logistik di posko utama belum mengalir merata ke warga terdampak. Mualem memperingatkan agar bantuan tidak berhenti di gudang atau pos distribusi. Ia meminta semua pihak, termasuk kepala desa dan relawan, memastikan bantuan tepat sasaran dan tidak menumpuk di satu titik sementara ribuan warga di pedalaman menunggu makanan dan air bersih.

Data posko tanggap darurat pada Jumat malam (5/12) mencatat 349 korban meninggal dan 92 orang hilang. Ribuan pengungsi masih bertahan di tenda seadanya dengan kebutuhan mendesak berupa makanan, air bersih, dan tenda layak. “Mereka bukan mati karena banjir, tapi karena kelaparan,” tegas Muzakir dengan suara penuh amarah setelah meninjau langsung lokasi terdampak.

Pemerintah Aceh mendesak pemerintah pusat menambah pesawat Hercules dan helikopter besar guna mempercepat suplai logistik ke desa terpencil. Dengan 41 jembatan putus di Aceh Utara saja, percepatan penanganan menjadi mutlak. Tanpa intervensi cepat, ancaman kematian semakin nyata di wilayah yang belum tersentuh bantuan.

Mualem menyebut bencana ini sebagai tragedi besar yang mengingatkannya pada tsunami Aceh 21 tahun lalu. “Saya melihat ini seperti tsunami kedua,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti sampai logistik dan bantuan medis diterima seluruh korban di seluruh titik pengungsian.

Kini Aceh bukan hanya menghadapi bencana alam, tetapi juga berpacu dengan waktu agar bantuan tepat sasaran dan tidak ada lagi nyawa hilang hanya karena lapar. Pemerintah daerah, relawan, dan seluruh unsur penanganan bencana dituntut bergerak cepat, terukur, dan tanpa kompromi.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.