RADAR JAKARTA|Jakarta Barat – Langkah berani diambil Polsek Metro Tamansari bersama TNI dan Satpol PP. Mereka menggulung habis atribut-atribut ormas yang bertebaran di jalanan Tamansari. Operasi ini bukan sekadar estetika—ini soal siapa yang menguasai ruang publik.
Dibungkus dalam tajuk Operasi Berantas Jaya 2025, aparat menyapu bersih simbol-simbol kelompok tertentu dari ruas-ruas utama Jakarta Barat: Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, hingga Mangga Besar. Tak ada kompromi. Tak ada negosiasi. Semua atribut ormas yang melanggar aturan, disikat.
AKBP Riyanto, Kapolsek Metro Tamansari, memimpin langsung operasi ini. Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk kehadiran negara dalam menegakkan ketertiban. “Kami tidak akan biarkan ruang publik dijadikan ajang pamer kekuasaan kelompok manapun,” ujarnya tegas.
Tindakan ini pun memicu gemuruh reaksi. Sebagian warga menyambut dengan lega akhirnya trotoar dan tiang listrik tidak lagi dipenuhi panji-panji ormas. Tapi di sisi lain, muncul suara-suara yang menuduh tindakan ini tebang pilih dan berpotensi memicu konflik.
Netizen pun terbagi. Di X, tagar #BersihTanpaOrmas dan #NegaraHadir trending semalam suntuk. “Sudah saatnya ruang publik bebas intimidasi simbolik,” tulis seorang pengguna. Tapi tak sedikit pula yang menuding aparat hanya berani terhadap ormas tertentu, sementara yang lain dibiarkan leluasa.
Yang jadi pertanyaan sekarang: Apakah penertiban ini murni soal penegakan aturan, atau sinyal bahwa negara mulai ambil alih kembali ruang yang selama ini dikuasai oleh kekuatan non-formal?
Atribut boleh dicabut, tapi tensi politik dan sosial di lapangan belum tentu ikut mereda. Tamansari baru permulaan. Apakah wilayah lain berani menyusul?
|Ucha*










