JAKARTA, radarjakarta.id — Presiden Prabowo Subianto hari ini menggelar pertemuan besar dengan para pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia di Istana Negara. Sedikitnya 1.000 rektor, guru besar, dan pimpinan kampus negeri maupun swasta dipanggil langsung oleh Kepala Negara dalam agenda strategis yang disebut-sebut sebagai “taklimat nasional” arah baru pembangunan berbasis pendidikan tinggi.
Pertemuan ini bukan sekadar seremoni. Istana menyiapkan forum tertutup yang menjadi ruang arahan langsung Presiden kepada dunia akademik agar kampus tidak lagi berdiri di pinggir, melainkan menjadi motor utama kebijakan dan pembangunan nasional. Agenda tersebut dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Fauzan, yang menyebut pertemuan ini sebagai agenda tahunan dengan bobot strategis tinggi.
“Benar, hari ini Presiden memberikan arahan kepada para rektor. Undangan mencapai sekitar 1.000 pimpinan perguruan tinggi,” ujar Fauzan kepada wartawan. Ia menegaskan fokus utama pengarahan menyangkut peran pendidikan tinggi dalam menopang agenda pembangunan nasional jangka panjang.
Undangan resmi kepada para rektor dan guru besar dikirimkan melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tertanggal 9 Januari 2026. Tercatat dua surat negara dikeluarkan dengan perihal Taklimat Presiden RI bersama Pimpinan Perguruan Tinggi, yang secara eksplisit menekankan dukungan kampus terhadap Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden.
Tak hanya rektor, sedikitnya 180 guru besar lintas disiplin turut diundang ke Istana. Salah satu yang menerima undangan adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Tjandra Yoga Aditama, meski ia menyatakan berhalangan hadir karena sedang berada di luar negeri.
Pemanggilan masif para akademisi ini mengulang pola yang sebelumnya dilakukan Presiden Prabowo pada 13 Maret 2025. Saat itu, Prabowo secara terbuka menyampaikan bahwa kampus harus memahami bukan hanya isu nasional, tetapi juga dinamika global yang berdampak langsung pada Indonesia.
“Saya mengundang Saudara-saudara untuk menjelaskan apa yang sudah kita kerjakan dan apa yang akan kita kerjakan ke depan,” kata Prabowo dalam pertemuan tahun lalu, menekankan pentingnya dialog dari hati ke hati antara negara dan dunia akademik.
Dalam pertemuan sebelumnya, Presiden juga menyinggung isu strategis seperti ketahanan nasional, arah riset Indonesia, hingga kritik terhadap fenomena ‘Indonesia Gelap’, serta komitmennya untuk meningkatkan pendanaan riset dan inovasi nasional.
Hari ini, pertemuan tersebut kembali digelar dengan skala yang jauh lebih besar. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo menempatkan kampus sebagai mitra inti negara, bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan pusat gagasan, riset, dan solusi nasional.
Hingga berita ini diturunkan, Istana belum merinci materi lengkap arahan Presiden. Namun sumber internal menyebutkan, hasil pertemuan ini akan menjadi fondasi kebijakan pendidikan tinggi dan riset nasional sepanjang masa pemerintahan Prabowo.|Bemby*











