JAKARTA, Radarjakarta.id – Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis (PERISAI) menggelar aksi massa di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Rabu (20/5/2026).
Aksi ini membawa seruan tegas: “Mari Bung Rebut Kembali Kedaulatan, Lawan Rezim Fasis Prabowo-Gibran!” sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kian tunduk pada agenda imperialisme global.
Juru Bicara Aliansi PERISAI, Deodatus Sunda SE (Dendy SE) mengatakan bahwa setelah lebih dari seabad bangsa Indonesia memasuki fase kesadaran modern melalui organisasi perjuangan rakyat, kedaulatan negara kini justru berada di ujung tanduk. Rezim Prabowo-Gibran dinilai secara terbuka menunjukkan keberpihakannya pada penjajahan “gaya baru” kolonialisme modern.
“Keterlibatan Prabowo dalam Board of Peace (BoP), posisi sebagai wakil komandan dalam International Stabilization Force (ISF), serta penandatanganan pembaruan perjanjian pertahanan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) dengan Amerika Serikat adalah bukti nyata pelacuran kedaulatan bangsa,” tegas Dendy SE di sela-sela aksi.
PERISAI sorotan tajam terhadap penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan pemerintahan AS di bawah Donald Trump. Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan nyata terhadap rakyat Indonesia dan retorika kedaulatan yang kerap didengungkan rezim sejak awal pemerintahan. Tidak hanya dengan AS, rezim saat ini dinilai aktif membangun diplomasi tunduk dengan sekutu imperialis seperti Jepang dan Korea.
“Prabowo telah bertindak sebagai makelar yang menjajakan setiap jengkal tanah dan sumber daya alam milik rakyat, bermodalkan jaminan tenaga kerja murah serta pasar domestik untuk menampung barang over-production milik imperialis,” lanjut Dendy.
10 Tuntutan Sikap Aliansi PERISAI
Menyikapi krisis kedaulatan dan ekonomi yang kian mencekik rakyat, Aliansi PERISAI menyatakan sikap dan menuntut DPR RI serta Pemerintah untuk segera:
1. Ganyang Imperialisme, perang, dan segala upaya penaklukan negara berdaulat menjadi pasar eksploitasi SDA.
2. Tolak ART (Agreement on Reciprocal Trade) yang menggadaikan kedaulatan kepada Donald Trump dan imperialis AS.
3. Tolak BOP (Board of Peace) yang menyokong perang dan pendudukan imperialis, terutama penindasan terhadap rakyat Palestina.
4. Mendorong DPR RI menggunakan Hak Interpelasi guna mendesak Presiden membatalkan kesepakatan dagang ART.
5. Hentikan seluruh kebijakan anti-rakyat dari rezim Prabowo-Gibran yang bertindak layaknya boneka AS.
6. Hentikan Militerisme dan tolak keterlibatan TNI/aparatus kekerasan dalam ranah sipil, pendidikan, monopoli tanah, serta sektor usaha.
7. Perbaiki kebijakan fiskal dan moneter negara yang mengakibatkan krisis multidimensi dan jatuhnya nilai tukar Rupiah.
8. Hentikan tindakan represif dan pembubaran diskusi, termasuk nobar “Pesta Babi” serta upaya lain yang menggerus hak demokratis rakyat.
9. TOLAK Kopdes Merah Putih yang melibatkan unsur militer.
10. Tolak militerisme di sektor Agraria dan Koperasi.
Aliansi PERISAI menegaskan bahwa aksi hari ini adalah pemantik awal dari gelombang perlawanan rakyat yang lebih besar jika tuntutan untuk mengembalikan kedaulatan 100% dan menghentikan militerisme di sektor sipil tidak segera dipenuhi oleh pemerintah dan parlemen.











