Ketika Doa Menjadi Tanggung Jawab Sosial
Bagi Haidar Alwi, munajat tidak berhenti pada lantunan doa. Doa justru menjadi pengingat tanggung jawab sosial: bahwa harapan harus diwujudkan dalam tindakan nyata agar tidak berhenti sebagai simbol.
Karena itulah, seiring dengan Munajat 10.000 Doa, aksi sosial terus dijalankan. Per 1 Januari 2026, Haidar Alwi melalui program Rakyat Bantu Rakyat telah menyalurkan santunan sebesar 1.580.000 (satu juta lima ratus delapan puluh ribu rupiah) lebih kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai wilayah Indonesia. Santunan ini disalurkan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar rakyat, khususnya keluarga prasejahtera dan kelompok rentan.
Anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu menerima bantuan biaya pendidikan, sembako, serta kebutuhan pokok lainnya. Bantuan ini tidak dimaknai sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai upaya menjaga martabat hidup dan menyalakan harapan di tengah keterbatasan.
Selain itu, program pemberangkatan umrah gratis bagi para ustadz dan ustadzah tetap dilaksanakan. Program ini menjadi bentuk penghargaan moral bagi para pendidik agama yang selama ini mengabdikan diri dengan ketulusan, sering kali bekerja dalam kesunyian tanpa sorotan dan penghargaan yang memadai.
Dari rangkaian doa dan aksi sosial tersebut, Haidar Alwi dikenal sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, sebuah gerakan moral yang menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada negara, tetapi juga pada solidaritas rakyat yang saling menolong, saling menguatkan, dan saling menjaga di masa sulit.
Ikhtiar yang Terus Dijaga
Munajat 10.000 Doa pada 1 Januari 2026 bukanlah puncak, melainkan bagian dari perjalanan panjang ikhtiar kebangsaan. Doa, kepedulian sosial, dan semangat saling membantu diposisikan sebagai fondasi agar bangsa ini tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Bagi Haidar Alwi, selama rakyat masih mau berdoa bersama, selama kepedulian sosial terus dijaga, dan selama semangat saling membantu tetap hidup, Indonesia akan selalu memiliki harapan, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai perjuangan yang terus dijalani.|Bemby











