Konflik Ambon 2025: Haidar Alwi Peringatkan, Jangan Jadi Spiral Baru, Maluku Harus Belajar dari Sejarah

banner 468x60

Belajar dari Sejarah

Konflik Ambon 1999–2004 menelan ribuan korban jiwa dan mengungsi ratusan ribu orang. Luka itu masih terasa, namun bangsa ini terlalu cepat menutup lembaran. Bentrokan 2025 menunjukkan bahwa pekerjaan rumah belum tuntas. Perdamaian bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab kesadaran kolektif masyarakat.

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa konflik, melainkan bangsa yang mampu mengelola konflik menjadi energi persaudaraan,” tegas Haidar Alwi.

Optimisme di Era Kepemimpinan Nasional

Haidar Alwi menilai konflik Ambon 2025 adalah ujian kepemimpinan nasional. Presiden Prabowo Subianto dikenal tegas, dan ketegasan itu dibutuhkan untuk melindungi rakyat. Di sisi keamanan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjukkan arti Polri Presisi: cepat, tepat, dan humanis. Ratusan aparat gabungan TNI-Polri yang hadir di Ambon menjadi bukti nyata negara melindungi semua warga.

“Polri hari ini hadir dengan wajah lebih modern, humanis, dan dekat dengan rakyat. Inilah wajah baru kepolisian yang layak menjadi contoh,” ujar Haidar Alwi.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dianggap sosok penyejuk politik. Kehadirannya memastikan parlemen mendukung rekonsiliasi sosial dan pemulihan persaudaraan.

“Bangsa ini membutuhkan sosok penyejuk seperti Dasco agar rekonsiliasi sosial benar-benar bermuara pada pemulihan persaudaraan,” tambah Haidar Alwi.

Haidar Alwi menegaskan: konflik Ambon 2025 tidak boleh menjadi spiral baru. Ini harus menjadi titik balik memperkuat persaudaraan dan mencegah sejarah kelam terulang.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.