JAKARTA, Radarjakarta.id – Peta konflik Timur Tengah kembali berubah drastis. Kelompok Houthi dari Yaman resmi membuka front baru dengan meluncurkan gelombang rudal balistik ke wilayah selatan Israel, menandai keterlibatan langsung pertama mereka sejak pecahnya perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Serangan yang diklaim menargetkan instalasi militer sensitif itu diumumkan langsung oleh juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree. Dalam siaran televisi yang disebarkan melalui jaringan Al Masirah, ia menegaskan operasi militer ini bukan aksi sesaat, melainkan awal dari rangkaian serangan berkelanjutan hingga tujuan mereka tercapai dan tekanan terhadap poros perlawanan dihentikan.
Di lapangan, militer Israel mengonfirmasi satu rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka. Sirene peringatan sempat menggema di wilayah Beersheba dan sekitarnya, namun tidak ada laporan korban jiwa. Meski demikian, serangan ini memicu kekhawatiran baru akan meluasnya konflik yang sebelumnya terpusat di Iran.
Houthi menyatakan aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Irak, dan Palestina. Mereka juga memperingatkan siap melakukan intervensi militer lebih besar jika eskalasi terus meningkat atau jika wilayah Laut Merah dimanfaatkan untuk menyerang Iran.
Masuknya Houthi ke arena perang dinilai sebagai perkembangan krusial. Pengamat internasional menilai kelompok ini memiliki kemampuan strategis untuk mengganggu jalur perdagangan global, terutama jika mereka memperluas operasi ke titik-titik vital seperti Selat Bab al-Mandeb dan Terusan Suez dua urat nadi utama ekonomi dunia.
Dengan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional dan potensi penutupan choke points global, dunia kini menghadapi risiko krisis berlapis: konflik militer yang meluas sekaligus tekanan ekonomi global yang semakin dalam. Situasi ini menempatkan Timur Tengah di ambang eskalasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.**”











