Kemandirian Sebagai Arah Besar Pemerintahan Prabowo
Haidar Alwi melihat bahwa pemerintahan Prabowo Subianto telah menapaki arah yang benar dengan menjadikan kemandirian pangan dan energi sebagai prioritas utama. Haidar Alwi menilai kebijakan itu bukan sekadar program ekonomi, melainkan kelanjutan dari semangat berdikari yang diwariskan para pendiri bangsa. Prabowo, menurut Haidar Alwi, tengah membangun pondasi agar Indonesia tidak mudah diombang-ambingkan oleh tekanan global maupun ketergantungan impor.
Haidar Alwi meyakini, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, arah kemandirian nasional itu menemukan jalannya yang paling realistis sekaligus paling berdaulat. Ia menilai, Prabowo sedang menghidupkan kembali semangat Pasal 33 UUD 1945 dalam kebijakan nyata: menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan ekonomi, bukan sekadar objek pembangunan.
Namun Haidar Alwi juga menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak ditentukan oleh besar proyek atau panjang pidato, melainkan oleh keberlanjutan moral dalam setiap langkah kebijakan. Pemerintah boleh kuat secara politik, tapi harus tetap lembut terhadap rakyatnya. Kemandirian bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan berdiri tegak dengan prinsip dan kemampuan sendiri. Dan di tengah upaya besar itu, Haidar Alwi menilai bahwa semangat kemandirian harus diperluas ke sektor paling strategis: energi.
“Dukung pemerintah bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Dukung pemerintah berarti ikut menjaga nurani kebangsaan agar arah pembangunan tetap berpihak kepada rakyat kecil. Kritik yang jujur adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan, karena cinta tanah air menuntut keberanian untuk menegur ketika negara mulai jauh dari rakyatnya,” tegas Haidar Alwi.
Dalam hal energi, Haidar Alwi percaya bahwa bangsa yang terus bergantung pada bahan bakar impor akan kehilangan kedaulatan ekonominya. Indonesia memiliki cukup potensi untuk mandiri melalui energi bersih: panas bumi, surya, angin, dan bioenergi berbasis rakyat. “Kemandirian energi bukan hanya soal listrik dan minyak, melainkan soal martabat bangsa untuk tidak tunduk pada tekanan global,” jelas Haidar Alwi.
Haidar Alwi menambahkan, arah kebijakan kemandirian ini sudah sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa kekayaan alam harus digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tantangannya kini adalah memastikan agar seluruh program tidak berhenti di konsep, tetapi benar-benar menyentuh lapisan bawah yang selama ini terabaikan. Pembangunan yang berhasil bukan yang terlihat megah di ibu kota, tetapi yang bisa dirasakan manfaatnya di pelosok negeri.
Rakyat Bantu Rakyat: Nurani yang Menggerakkan Negara
Bagi Haidar Alwi, kekuatan bangsa sejati lahir dari rakyat yang saling menolong. Itulah sebabnya Haidar Alwi mempunyai program Rakyat Bantu Rakyat sebagai wujud nyata dari semangat ekonomi moral. Melalui Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi menggerakkan berbagai program sosial seperti santunan dua juta anak yatim dan dhuafa, program 1000 ton beras untuk rakyat dan masih banyak lagi yang lain. Semua dijalankan tanpa seremoni, sebab baginya, kerja kemanusiaan tidak butuh tepuk tangan, melainkan ketulusan dan konsistensi.
Gerakan ini bukan sekadar bentuk kedermawanan, tetapi strategi kebangsaan untuk membangun ketahanan sosial dari bawah. Ketika rakyat saling menguatkan, ketahanan bangsa tumbuh jauh lebih kokoh menghadapi guncangan ekonomi apa pun. Melalui gotong royong, nilai-nilai Pancasila dan amanat Pasal 33 UUD 1945 diterjemahkan menjadi tindakan: bahwa kesejahteraan harus diusahakan bersama, bukan ditunggu turun dari atas.
Haidar Alwi menegaskan, keberhasilan sejati bangsa tidak diukur dari kekuatan militernya atau besarnya cadangan devisa, melainkan dari kemampuannya menumbuhkan keadilan di hati rakyatnya. Bangsa yang berhasil bukan yang menaklukkan dunia, melainkan yang mampu menenangkan rakyatnya dengan rasa aman, sejahtera, dan penuh harapan.
“Bangsa yang besar bukan yang sibuk menaklukkan dunia, tetapi yang sabar menyejahterakan rakyatnya. Kemandirian adalah martabat. Dan martabat bangsa hanya bisa dijaga bila pemerintah dan rakyat berdiri di sisi yang sama, bekerja, berbagi, dan berjuang demi keadilan yang bisa dirasakan hingga dapur-dapur rakyat,” pungkas Haidar Alwi.|Bemby











