Haidar Alwi: Di Balik Fitnah Nasab, Membaca Pola Sistematis Kesesatan Informasi Imaduddin

Haidar Alwi
banner 468x60

Akar Fitnah Nasab dan Bahaya Disinformasi yang Dipelihara

Disinformasi agama memiliki daya rusak yang jauh lebih besar daripada hoaks politik atau ekonomi. Ia menyentuh keyakinan, kehormatan, dan identitas. Dalam kasus Ba‘Alawi, fitnah tumbuh melalui tiga jalur mematikan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pertama, minimnya pemahaman publik tentang otoritas ulama Yaman. Mayoritas masyarakat tidak mengetahui bahwa Kemuftian Yaman telah menegaskan sejak 2019-2020 bahwa mereka tidak memiliki akun media sosial. Artinya, setiap kabar yang bersumber dari akun yang mengatasnamakan Mufti adalah palsu.

Kedua, emosi publik terhadap isu nasab membuat logika tertinggal. Ia menyentuh kebanggaan, sehingga masyarakat bereaksi cepat tanpa verifikasi.

Ketiga, adanya sosok seperti Imaduddin yang secara aktif memperkuat hoaks tersebut. Imaduddin tidak sekadar mempublikasikan klaim palsu, tetapi memberikan sentuhan retorika seolah-olah kabar itu berasal dari sumber otoritatif. Di sinilah fitnah mendapatkan sayap.

Jika hanya ada kabar palsu tanpa amplifikasi, fitnah akan cepat mati. Tetapi ketika ada sosok seperti Imaduddin yang memelihara narasi itu, fitnah bertahan bahkan setelah dibantah oleh sumber resmi.

Kronologi yang Tidak Bisa Dipungkiri: Bagaimana Hoaks Itu Diproduksi dan Diulang

Jika kita susun sebagai narasi, fitnah ini mengikuti pola yang rapi rapi karena dilakukan dengan sadar. Pada 2022, muncul artikel anonim yang mengklaim pembatalan puluhan kabilah. Tidak ada sumber, tetapi ada sensasi.

Klaim inilah yang menjadi bekal awal bagi para penyebar hoaks. Lalu tiba momen penting: 15 Maret 2024, ketika Imaduddin mempublikasikan ulang klaim itu melalui RM Young Banten, lengkap dengan penjelasan seolah-olah itu keputusan institusional.

Publik terseret, sebagian karena percaya pada retorika Imaduddin, sebagian karena tidak memiliki akses langsung ke ulama Yaman. Tetapi hanya berselang dua minggu, pada 31 Maret 2024, klarifikasi dari Muhammad Zagafal Qaf menegaskan bahwa fatwa itu tidak pernah ada.

Pada 16 Mei 2024, video resmi putra Mufti Yaman menutup ruang sangkalan: Mufti tidak pernah memiliki akun media sosial, tidak pernah mengeluarkan fatwa pembatalan nasab, dan tidak pernah mengetahui tulisan-tulisan yang beredar. Pada 5 Juli 2024, Mufti sendiri mengulanginya dalam khutbah.

Pada titik ini, seseorang yang mencari kebenaran seharusnya berhenti. Tetapi Imaduddin tidak berhenti. Ia mengulang narasi itu lagi pada 20 Mei dan 27 Mei 2024, bahkan setelah bantahan resmi beredar luas. Dan ketika publik menuntut penjelasan setahun kemudian, ia menyebut semuanya “candaan”.

Di sinilah kita melihat bukan kelalaian, tetapi pola: menyebarkan hoaks, menolak klarifikasi, dan berlindung di balik humor.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.