JAKARTA, Radarjakarta.id – Sejarah umat Islam penuh dengan contoh tentang bagaimana kehormatan dapat roboh bukan karena serangan musuh, tetapi karena fitnah yang tumbuh dari tangan orang yang menganggap dirinya pejuang kebenaran.
Pada masa lalu, fitnah disebarkan dari mulut ke mulut; kini ia bergerak jauh lebih cepat, mengalir lewat layar, masuk ke pikiran sebelum nalar sempat berfungsi. Ketika kabar palsu mengatasnamakan ulama besar, ketika sanad diputuskan lewat unggahan anonim, dan ketika kehormatan keluarga dicampakkan demi kepuasan sesaat, maka kita menyaksikan gejala keruntuhan moral yang lebih dalam dari sekadar perbedaan pendapat.
Di tengah pusaran ini, satu nama muncul dengan pola yang konsisten dan tidak bisa diabaikan: Imaduddin. Sebutannya harus jelas, analisa harus terang. Bukan untuk menjatuhkan seseorang, tetapi untuk meninggalkan preseden bagi umat: bahwa kebenaran tidak boleh tunduk kepada mereka yang memelihara kebohongan dengan cara sistematis.
Dalam pandangan Ir. R. Haidar Alwi, MT, Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, melihat isu ini sebagai fenomena moral. “Ketika orang meminjam nama ulama untuk menyebarkan kebohongan, yang hancur bukan hanya reputasi keluarga, tetapi fondasi akal sehat umat,” tegas Haidar Alwi.
Bagi Haidar Alwi, fitnah nasab Ba‘Alawi yang disebarkan melalui kanal-kanal digital bukan lahir dari ketidaktahuan semata, tetapi dari keberanian melanggar adab ilmu. Dan selama masyarakat tidak memahami pola tersebut, fitnah akan terus beranak pinak, merusak dari generasi ke generasi.
Ketika Marwah Nasab Menjadi Korban Hoaks
Nasab bukan sekadar garis keturunan; ia adalah marwah. Ia adalah kehormatan yang dijaga oleh ulama, keluarga, dan sejarah. Ketika seseorang menuduh nasab orang lain palsu, ia sedang menggugat kehormatan sebuah kabilah, memecah kepercayaan antar keluarga, dan menebar bara yang dapat menyulut permusuhan sosial.
Di banyak daerah, tuduhan semacam ini bisa melahirkan konflik berkepanjangan. Karena itu, dalam tradisi keilmuan Islam, nasab tidak boleh dinilai berdasarkan prasangka, apalagi berdasarkan unggahan tidak jelas sumbernya.
Namun apa yang terjadi? Fitnah nasab Ba‘Alawi menyebar cepat karena ada yang memberikan panggung. Klaim bahwa “Mufti Yaman membatalkan puluhan kabilah” tiba-tiba menjadi pembicaraan publik, padahal tidak pernah ada dokumen resmi, tidak ada maklumat institusi, dan tidak ada rekaman verifikasi.
Tetapi karena narasi itu diperkuat oleh Imaduddin, publik menerimanya seolah-olah itu fakta yang tak terbantahkan. Inilah awal dari kerusakan: fitnah bukan tumbuh dari kebodohan, tetapi dari kepercayaan yang salah ditempatkan.
Kebenaran Bukan Milik Orang yang Berani Berbicara, Tetapi Milik Mereka yang Berani Memeriksa
Haidar Alwi menyadarkan kita bahwa umat Islam memiliki tradisi emas dalam memeriksa kebenaran. Kita diajari sanad, tabyin, verifikasi, dan kehati-hatian dalam setiap kalimat. Namun tradisi itu terkikis ketika emosi lebih cepat bergerak daripada akal. “Masalah kita bukan kurangnya informasi, Masalah kita adalah hilangnya disiplin untuk memeriksa informasi,” ujarnya.











