Haidar Alwi: Antrean BBM Bali Menjadi Alarm Keras bagi Rantai Pasok Energi yang Kehilangan Komando

Foto: Ilustrasi
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di Bali bukan kesalahan masyarakat yang panik membeli. Masyarakat bereaksi terhadap ketidakpastian pasokan yang mereka hadapi. Ketika persediaan operasional menipis, kapal terlambat, dan informasi mengenai ketersediaan BBM tidak memberikan kepastian, satu kabar tentang SPBU yang kehabisan stok dapat memicu antrean berantai.

Gangguan yang semula berada di ranah logistik kemudian merambat ke mobilitas masyarakat, kegiatan usaha, dan kepercayaan publik. Dalam sistem energi modern, persoalan paling mendasar bukan semata-mata ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan sistem mengubah persediaan menjadi pelayanan yang tepat waktu, merata, dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Gangguan pasokan BBM di berbagai wilayah, termasuk laporan dari Malang, Sintang, Kefamenanu, dan Bone Bolango, memperlihatkan pentingnya evaluasi yang melampaui satu lokasi kejadian. Pola dan penyebab setiap peristiwa memang perlu diperiksa secara terpisah, tetapi kemunculannya menjadi alasan kuat untuk menguji ketahanan rantai pasok nasional.

Dalam perspektif tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menempatkan persoalan Bali sebagai ujian terhadap hubungan antara pengadaan, transportasi, terminal, distribusi, dan pengambilan keputusan.

Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan arsitektur energi yang mampu mengantisipasi gangguan sebelum berubah menjadi krisis pelayanan. Jika setiap fungsi bergerak dengan perencanaan, data, dan jalur komando yang terpisah, penambahan pasokan sekalipun belum tentu mampu memulihkan keadaan dengan cepat.

Pertamina Patra Niaga mengumumkan tambahan pasokan 57,9 juta liter BBM untuk Bali pada periode 14–17 Oktober 2026, terdiri atas 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax. Namun, besarnya pasokan yang diumumkan tidak otomatis membuktikan seluruh volume telah diterima, tersalurkan, dan tersedia di semua SPBU. Dalam evaluasi operasional, stok nasional, stok terminal, volume yang sedang diangkut, dan BBM yang dapat dibeli masyarakat merupakan indikator berbeda. Keberhasilan penanganan perlu dinilai dari realisasi pengiriman, durasi gangguan, kecepatan pemulihan, serta kepastian pelayanan di titik konsumsi.

“Antrean BBM bukan hanya persoalan keterlambatan kapal atau lonjakan permintaan. Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan seluruh rantai pasok bekerja sebagai satu sistem, dari pengadaan hingga SPBU. Ketika gangguan pada satu titik berkembang menjadi masalah pelayanan yang luas, kita perlu memeriksa kualitas perencanaan, efektivitas koordinasi, dan kecepatan keputusan yang menentukan ketahanan pasokan,” tegas Haidar Alwi.

Untuk memahami persoalan tersebut secara utuh, analisis perlu menelusuri titik-titik kerentanan yang dapat mengubah gangguan logistik menjadi krisis pelayanan, kemudian menghubungkannya dengan pembenahan operasional dan reformasi tata kelola yang terukur.

Lima Titik Kerentanan yang Mengubah Gangguan Logistik Menjadi Krisis Pelayanan

Titik pertama adalah perencanaan pengadaan yang terlalu dekat dengan waktu kebutuhan. Pengadaan minyak mentah, BBM impor, dan penyewaan kapal yang dilakukan secara mendadak dapat mempersempit ruang untuk menghadapi cuaca buruk, antrean sandar, perubahan jadwal kargo, atau keterlambatan armada. Dalam manajemen rantai pasok, waktu pemesanan, waktu pengiriman, dan tingkat persediaan penyangga menentukan kemampuan sistem menyerap gangguan.

Ketika perencanaan hanya cukup untuk kondisi normal, keterlambatan beberapa hari dapat menguras persediaan operasional dengan cepat. Karena itu, evaluasi perlu memeriksa jadwal pemesanan, kontrak pasokan, waktu kedatangan kapal, proyeksi konsumsi, dan riwayat stok terminal. Pengadaan yang terencana bukan sekadar soal harga, melainkan juga instrumen untuk melindungi kesinambungan pelayanan.

Titik kedua adalah mekanisme Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan efektivitas tender. Apabila HPS tidak mencerminkan kondisi pasar pada periode pengadaan, tender berisiko sepi peminat atau gagal, kemudian perlu diulang. Proses tersebut dapat menghabiskan waktu yang semestinya menjadi bagian dari perlindungan persediaan. Namun, hubungan antara HPS dan gangguan Bali perlu dibuktikan melalui dokumen tender, pembanding harga produk dan biaya angkutan, serta catatan alasan kegagalan pengadaan.

Titik ketiga adalah perencanaan kargo dan kapal yang tidak terpadu. Kargo yang telah diperoleh tanpa kapal yang siap, atau kapal yang tersedia tanpa muatan terjadwal, sama-sama dapat mengurangi kepastian pengiriman. Pada rute berisiko tinggi, kontrak pasokan jangka panjang dan penyewaan kapal berbasis waktu (time charter) dapat dievaluasi untuk mengurangi ketergantungan pada pengadaan mendadak.

Titik keempat adalah kemungkinan fragmentasi komando, sedangkan titik kelima adalah keterlambatan eskalasi informasi. Penggabungan fungsi Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS) ke dalam struktur Subholding Downstream pada Februari 2026 perlu dinilai berdasarkan hasil operasional, bukan semata-mata perubahan bagan organisasi.

Integrasi kelembagaan baru bermakna apabila perencanaan, pengadaan, perkapalan, terminal, dan pemasaran menggunakan data yang selaras serta memiliki jalur pengambilan keputusan yang jelas. Jika keterlambatan kapal tidak segera diterjemahkan menjadi peringatan risiko kekosongan SPBU, persoalan logistik dapat berkembang sebelum tindakan korektif dijalankan. Untuk memastikan apakah fragmentasi komando benar-benar terjadi, diperlukan pemeriksaan struktur kewenangan, jalur pelaporan, kronologi komunikasi, dan waktu keputusan.

“Pengadaan yang terlalu dekat dengan kebutuhan, HPS yang tidak sesuai dengan dinamika pasar, kargo yang tidak sinkron dengan kapal, serta koordinasi yang terfragmentasi dapat membentuk satu rangkaian kerentanan. Setiap faktor perlu dibuktikan melalui data, tetapi evaluasi tidak boleh berhenti pada pemicu terakhir yang terlihat di lapangan. Kita perlu mengetahui di mana risiko pertama kali muncul, mengapa peringatan tidak cukup cepat ditindaklanjuti, dan bagaimana tanggung jawab operasional dapat dibuat lebih jelas,” jelas Haidar Alwi.

Diagnosis tersebut menjadi dasar bagi pembenahan tiga lapis: penanganan darurat, perbaikan cara kerja, dan pembangunan fondasi ketahanan jangka panjang. Ketiganya perlu dijalankan secara terkoordinasi agar respons terhadap antrean tidak berakhir sebagai pengiriman tambahan yang hanya menyelesaikan gejala sementara.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.