Haidar Alwi: 219,74 Juta Jiwa Terselamatkan, Keberhasilan Polri Berantas Narkoba Tak Bisa Diukur Rupiah

Haidar Alwi
banner 468x60

Nilai Keberhasilan yang Tidak Bisa Ditakar dengan Rupiah

Kalau dilihat dari data resmi yang bisa diverifikasi, gambaran penyelamatan generasi itu sangat besar. Polri pada 2021 berhasil menyelamatkan 39,24 juta jiwa, pada 2022 sekitar 104,4 juta jiwa, pada 2023 35,7 juta jiwa, dan pada 2024 40,4 juta jiwa. Jika empat angka ini dijumlahkan, hasilnya sekitar 219,74 juta jiwa yang menurut perhitungan resmi Polri terselamatkan dari peredaran gelap narkoba.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Secara nilai ekonomi, angka minimum yang aman dipakai dari laporan resmi berada di kisaran Rp11,66 triliun pada 2021, Rp11,02 triliun pada 2022, Rp12,8 triliun pada 2023, Rp8,6 triliun pada 2024, dan Rp41 triliun pada laporan penindakan setahun terakhir.

Secara akumulatif minimum, nilainya sudah berada di kisaran Rp85 triliun lebih. Namun angka sebesar itu tetap belum mampu menggambarkan nilai sesungguhnya, karena yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi kualitas generasi bangsa.

Rakyat perlu membayangkan satu hal sederhana: jika ratusan ton narkoba itu lolos ke pasar gelap, berapa banyak pelajar yang terjerumus, berapa banyak keluarga yang hancur, berapa besar biaya kesehatan yang membengkak, berapa luas kriminalitas yang ikut tumbuh, dan berapa banyak masa depan yang runtuh sebelum sempat berkembang. Di titik ini, nilai keberhasilan Polri jelas melebihi seluruh angka materi yang bisa dicatat dalam laporan tahunan.

“Nilai keberhasilan Polri dalam pemberantasan narkoba tidak bisa diukur dengan rupiah semata, karena yang diselamatkan adalah kualitas manusia. Uang bisa dihitung, tetapi generasi yang tidak hancur akibat narkoba tidak punya harga pasar,” tegas Haidar Alwi.

Pandangan itu menempatkan pemberantasan narkoba sebagai investasi sosial jangka panjang. Ketika ancaman dihentikan hari ini, negara sedang mengurangi beban kriminalitas, kerusakan kesehatan publik, dan kehancuran keluarga pada masa depan. Dalam konteks itulah apresiasi terhadap Polri dan kepemimpinan Kapolri menjadi penting untuk ditegaskan.

Apresiasi untuk Polri dan Kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Keberhasilan ini layak diapresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jajaran Polri, mulai dari Bareskrim, Polda, Polres, hingga personel lapangan yang bekerja di garis depan.

Pada 29 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, untuk memusnahkan 214,84 ton barang bukti narkoba senilai Rp29,37 triliun bersama Kapolri. Kehadiran Presiden dalam momen tersebut menunjukkan bahwa perang melawan narkoba adalah agenda strategis negara.

Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, penanganan narkoba terlihat semakin terukur, sistematis, dan berorientasi pada keselamatan publik.

Peningkatan kapasitas pengungkapan dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa institusi Polri terus bergerak menyesuaikan diri dengan pola kejahatan yang semakin kompleks. Ini bukan sekadar keberhasilan administratif, melainkan keberhasilan menjaga kehidupan masyarakat dari ancaman yang merusak dari dalam.

Menurut Haidar Alwi Institute, Polri adalah institusi strategis dalam menjaga keamanan nasional dan melindungi masa depan generasi bangsa. Pernyataan ini berangkat dari kenyataan bahwa bangsa yang gagal melindungi anak mudanya dari narkoba sedang membiarkan masa depannya runtuh secara perlahan.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jajaran Polri. Keberhasilan ini bukan hanya prestasi institusi, tetapi bentuk nyata penyelamatan bangsa, karena setiap pengungkapan narkoba berarti ada generasi yang berhasil dijauhkan dari kehancuran,” pungkas Haidar Alwi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.