JAKARTA, Radarjakarta.id – Setelah tahun lalu mencatat sejarah sebagai peragaan busana disabilitas pertama dan terbesar di Indonesia, Harmoni Inklusif kembali hadir pada Sabtu, 6 Desember 2025 di The Nine, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta.
Keterbatasan fisik tak membuat seseorang harus mengurungkan cita-citanya. Dengan menampilkan model difabel, tua muda, laki-laki perempuan, tampak luwes dipanggung berlenggak-lenggok di runway, terkadang dengan gestur jenaka nan centil.
Ajang ini memberikan ruang dan apresiasi bagi difabel untuk berkarya dengan pembuktian bahwa keberagaman adalah kekuatan.
Harmoni Inklusif 2025 menampilkan 35 model difabel yang akan melenggang di panggung runway sebagai representasi keberagaman, kekuatan, dan kesetaraan.
Tahun ini, Harmoni Inklusif mengangkat kebudayaan Suku Alor di Nusa Tenggara Timur dengan semangat “Threads of Resilience”, sebuah narasi yang menenun ketangguhan, budaya, dan identitas ke dalam panggung mode nasional.
Diselenggarakan oleh Yayasan LAYAK Indonesia, acara ini menjadi ruang kolaboratif yang menunjukkan bahwa industri kreatif hanya dapat berkembang apabila memberi akses setara bagi semua individu. Melalui program pelatihan, pendampingan, dan representasi positif, LAYAK membangun ekosistem yang berkelanjutan bagi talenta disabilitas agar dapat tampil, berkarya, dan dihargai secara profesional.

Mengusung kekayaan budaya Suku Alor, Harmoni Inklusif 2025 menampilkan perpaduan tekstil tradisional, filosofi, dan cerita dari masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Perayaan budaya ini diwujudkan melalui segmen teater bertajuk Jejak Alor yang membuka acara dengan panggung apresiasi budaya oleh aktor Tuli, mempersembahkan interpretasi visual melalui gerak, ritme, dan narasi tanpa suara.
Koleksi busana yang ditampilkan seluruhnya menggunakan kain tenun asli dari Alor sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya Indonesia Timur.
“Tahun ini Layak mengembangkan 64 anak dengan karakter yang dan kategori disabilitas yang berbeda-beda. Tema tahun ini wastra dengan spesifik tenun alor. Kenapa tenun alor, karena setiap event nya kami ingin membawa suku budaya Indonesia yang beragam, ada lebih dari 1,000. Jadi event-event kedepannya akan membawa lebih banyak warna budaya Indonesia. ” kata Karina Aprillia, founder LAYAK Foundation.
Sebanyak 35 model disabilitas tampil sebagai wajah utama Harmoni Inklusif 2025. Mereka merupakan lulusan pelatihan Layak School dan Layak Talent Agency, mewakili latar belakang, kondisi, karakter, dan kemampuan yang berbeda.
Proses persiapan dilakukan secara intensif dengan bimbingan instruktur profesional seperti Laura Muljadi, Fabienne Nicole, Arcellyn Berlian, Bubah Alfian, Rory Asyari, Han Chandra, Vania Agustina, dan sejumlah model serta mentor berpengalaman lainnya.
Pada ranah mode, Harmoni Inklusif 2025 melibatkan AMOTSYAMSURIMUDA, Nita Seno Adji x STHYA, Raegitazoro, Studio Ikaten, serta Wilsen Willim yang pada tahun ini merilis koleksi kolaborasi bersama Oemah Etnik, acara ini memperlihatkan bahawa inklusi dapat berjalan seiring dengan estetika, keahlian teknis, dan keindahan desain.
“Selain saat membuat desain, ternyata bekerja sama dengan Harmoni Inklusif ini serunya saat fitting, saya merasa senang karena bisa ketemu dan ngobrol bareng teman-teman Layak. Mengenal berbagai karakter mereka, contohnya ada Grace yang awalnya malu-malu tapi lama-lama manis sekali bahkan sampai peluk-peluk, saya enjoy sekali prosesnya, ” kata Raegita Oktora, RAEGITAZORO.
“Ini ke-3 kalinya juga Nita Seno Adji & STHYA Label bekerja sama dengan Harmoni Inklusif, kami merasa terhormat karena teman-teman disabilitas sangat professional, bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran nya. Sehingga terlihat bahwa keterbatasan itu sebenarnya tidak ada, hanya talenta yang di asah dengan baik,” tutur Nita Seno Adji.
“Bagi saya tidak ada tantangan khusus, karena as designers we make clothes yang sudah seharusnya bisa dipakai siapapun, jadi apapun yang kami buat sebenarnya pasti bisa dipakai temen-teman yang berkebutuhan khusus. Jadi prosesnya tidak sulit dan saya enjoy, ” kata Wilsen Willim & Amot Syamsurimuda
“Studio Ikaten selalu bersemangat untuk menghadirkan karya yang inklusif, kedepannya kami ingin fashion juga bisa dinikmati teman-teman tuna netra, dengan menghadirkan pengalaman wastra lewat tekstur, ” tambah Aulya Akhsan, Studio Ikaten
Melalui tema “Threads of Resilience”, Harmoni Inklusif 2025 mengajak publik untuk melihat kekuatan nyata di balik identitas teman-teman disabilitas. Mereka tampil bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai subyek utama yang layak memperoleh ruang, kesempatan, dan penghargaan yang setara.
Kehadiran acara ini diharapkan mampu memperluas dialog nasional mengenai inklusi, aksesibilitas, dan representasi di sektor kreatif, sekaligus memperkuat komitmen bahwa keberagaman bukan sekadar gagasan, melainkan praktik yang harus diwujudkan pada dunia kerja, komunikasi, dan budaya.
“Saya merasa bangga dan haru bisa menjadi bagian dari LAYAK School, lingkungan yang memberi peluang nyata bagi saya dan teman-teman disabilitas masuk ke ranah fashion,” kata Grisandi, Model LAYAK School.
“Di sini, saya merasa kemampuan dihargai, potensi diberdayakan, dan mimpi diberi ruang untuk tumbuh, sehingga saya merasa saya berhak untuk berdiri sekarang, bersinar dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari mimpi, melainkan awal menuju panggung yang lebih besar tak terbatas,” tambahnya.
Acara ini terselenggara melalui dukungan PELINDO, Kementerian Kebudayaan, kementerian Ekonomi Kreatif, pemerintah provinsi NTT, OMG, Empowernow.id, Sunyi, Sopo Del Office Tower + Lifestyle Center, dan Torenda.
Koleksi desainer yang terlibat dijual selama acara dan sebagian hasilnya dialokasikan untuk program Yayasan LAYAK Indonesia, yang berfokus pada pelatihan, pemberdayaan, advokasi, serta penyediaan kesempatan profesional yang setara bagi komunitas disabilitas. (Adi)










