FEB UI Ajak Publik Kurangi Urban Heat Island Lewat Gaya Hidup Ramah Lingkungan

banner 468x60

DEPOK, Radarjakarta.id – Fenomena Urban Heat Island (UHI) kian mengkhawatirkan di kota-kota besar Indonesia. Suhu udara di kawasan perkotaan jauh lebih panas dibandingkan wilayah sekitarnya akibat dominasi beton dan aspal, minimnya vegetasi, serta konsumsi energi yang boros. Kondisi ini bukan hanya menurunkan kenyamanan hidup, tetapi juga memperburuk emisi karbon yang menghambat target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Menjawab tantangan itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menggelar program edukasi masyarakat bertajuk “Net Zero from Home: Peran Masyarakat dalam Mengurangi Urban Heat Island”. Program ini diselenggarakan oleh tim pengabdian masyarakat FEB UI yang dipimpin Dr. Ifrani Fithria Ummul Muzayahab bersama Putu Angga Widyastaman dan Ikrar Genidal Riadil, serta menghadirkan narasumber dari STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, Wisnu Budi Waluyo.

Program dikemas dalam bentuk video podcast dua episode yang mengulas langkah-langkah sederhana namun berdampak besar dalam menekan UHI sekaligus mendukung pencapaian NZE.

Episode perdana mengangkat tema “Hemat Energi dari Rumah”. Wisnu menjelaskan, konsumsi listrik rumah tangga—terutama dari pendingin ruangan, kulkas, dan pencahayaan—menyumbang porsi besar penggunaan energi nasional. “Kebiasaan mematikan perangkat saat tidak terpakai, menggunakan lampu LED, mengatur suhu AC pada 25°C, dan memanfaatkan cahaya alami terbukti menekan konsumsi energi. Bila dilakukan bersama-sama, langkah ini mampu mengurangi emisi sekaligus menurunkan waste heat,” katanya.

Selain dampak lingkungan, gaya hidup hemat energi juga membawa manfaat ekonomi berupa penghematan biaya listrik. Kesadaran konsumen ini mendorong produsen menghadirkan lebih banyak perangkat ramah lingkungan, sehingga terbentuk ekosistem hijau berkelanjutan.

Episode kedua mengangkat tema “Transportasi Publik untuk Kota Lebih Sejuk”. Menurut Wisnu, penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan memperburuk polusi udara, emisi gas rumah kaca, serta panas buangan di perkotaan. “Dengan beralih ke bus listrik, MRT, atau commuter line, konsumsi bahan bakar fosil berkurang dan suhu udara kota ikut turun,” ujarnya.

Ia menekankan, kebijakan pemerintah soal transportasi ramah lingkungan akan lebih efektif bila ditopang partisipasi masyarakat. Perubahan pola mobilitas tidak hanya membuat udara lebih bersih, tetapi juga mempercepat pencapaian target NZE.

Program Net Zero from Home menegaskan bahwa mitigasi UHI tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan masyarakat. Dari kebiasaan hemat energi di rumah hingga penggunaan transportasi publik, setiap tindakan kecil akan menciptakan dampak besar bila dilakukan secara kolektif.

“Net Zero from Home bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata. Semakin banyak masyarakat terlibat, semakin sejuk dan berkelanjutan masa depan kota kita,” tutur Ikrar dari tim pengabdian masyarakat FEB UI.| Aji*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.