Dihantam Gelombang dan Mesin Mati, Perahu Jurek Terbalik di Pelawangan Grajagan: 2 Nelayan Tewas, 2 Hilang

banner 468x60

BANYUWANGI,Radarjakarta.id– Musibah kembali terjadi di kawasan Pelawangan laut Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Sebuah perahu jurek yang mengangkut 33 anak buah kapal (ABK) terbalik saat hendak memasuki pintu masuk muara usai melaut pada Senin (20/7/2026) dini hari. Akibat kejadian itu, dua nelayan ditemukan meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian.

Kapolsek Purwoharjo, IPTU Agus Suhartono menjelaskan, peristiwa terjadi sekitar pukul 04.00 WIB ketika perahu jurek Inovasi selesai mencari ikan dan hendak masuk melalui Pelawangan laut Grajagan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Menurut keterangan para ABK yang selamat, saat mendekati pelawangan kondisi laut awalnya relatif tenang. Namun tiba-tiba kapal terseret arus, kemudian datang gelombang besar yang menghantam perahu. Mesin kapal sempat mati sehingga nahkoda kehilangan kendali dan perahu akhirnya terbalik,” jelas IPTU Agus.

Seluruh ABK berupaya menyelamatkan diri. Sebagian berenang menuju daratan, sementara lainnya bertahan dengan berpegangan pada galon maupun benda-benda yang dapat mengapung.

Dalam kejadian tersebut, dua nelayan ditemukan meninggal dunia setelah dievakuasi dari laut. Sementara dua ABK lainnya hingga kini masih belum ditemukan. Tim gabungan yang terdiri dari Polsek Purwoharjo, Polairud, Pos TNI AL Grajagan, pemerintah kecamatan, tenaga medis, nelayan setempat, serta Basarnas terus melakukan upaya pencarian.

Kapolsek menambahkan, hasil pemeriksaan tenaga medis terhadap kedua korban meninggal tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Pihak keluarga juga telah menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah sehingga tidak menghendaki dilakukan autopsi.

Pelawangan laut Grajagan sendiri dikenal sebagai salah satu jalur keluar-masuk perahu nelayan menuju Samudra Hindia. Kawasan ini merupakan muara yang mempertemukan arus sungai dengan ombak besar Laut Selatan sehingga kerap memunculkan arus silang dan gelombang tinggi yang sulit diprediksi. Tak sedikit kecelakaan laut pernah terjadi di kawasan ini dan menelan korban jiwa.

IPTU Agus Suhartono mengimbau seluruh nelayan agar selalu meningkatkan kewaspadaan setiap kali hendak melintas di Pelawangan laut Grajagan, terutama saat kondisi cuaca dan gelombang berubah.

“Kami mengimbau kepada seluruh nelayan Grajagan agar selalu mengutamakan keselamatan saat melaut. Perhatikan kondisi cuaca, ombak, dan arus sebelum berangkat maupun saat akan masuk melalui pelawangan. Jangan memaksakan melintas apabila kondisi laut membahayakan. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Hingga berita ini ditulis, proses pencarian terhadap dua nelayan yang masih hilang terus dilakukan oleh tim gabungan bersama nelayan setempat

Hingga saat ini, penyisiran skala besar masih terus dilakukan untuk menemukan dua nelayan yang belum kembali. Upaya pencarian melibatkan tim gabungan yang terdiri dari.

​Basarnas & Polairud,​Polsek Purwoharjo & Pos TNI AL Grajagan,​Pemerintah Kecamatan & Tenaga Medis,​Nelayan lokal Grajagan

​Pelawangan Laut Grajagan dikenal sebagai muara rawan yang mempertemukan arus sungai dengan ombak lepas Samudra Hindia. Pertemuan ini kerap menciptakan arus silang (cross-current) berbahaya yang sulit diprediksi.

​Kepolisian mengimbau keras para nelayan untuk selalu mengedepankan keselamatan dan memantau perkiraan cuaca sebelum melintas.

​”Kami mengimbau nelayan agar tidak memaksakan melintas apabila kondisi laut membahayakan. Perhatikan ombak dan arus baik saat berangkat maupun hendak pulang. Keselamatan jiwa harus jadi prioritas utama,” tegas Kapolsek.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.