Kisah Tina dan Ni Luh memberikan kita wawasan bahwa politik bukan hanya soal wajah cantik atau popularitas semata. Ini tentang aksi, tentang membuat perbedaan nyata dalam kehidupan masyarakat. Mereka menunjukkan bahwa perempuan di politik dapat menjadi lebih dari sekedar ikon; mereka adalah agen perubahan yang memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan memotivasi.
Dari perspektif filsafat kritis gender, representasi perempuan di politik bukan hanya tentang jumlah. Ini tentang kualitas intervensi dan kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan yang memperhatikan keadilan gender. Dalam konteks ini, karya-karya filosof seperti Simone de Beauvoir dan Judith Butler memberikan kita pemahaman bahwa identitas dan peran gender tidak ditetapkan secara alamiah, melainkan dibentuk oleh norma-norma sosial yang bisa dan harus ditantang.
Perempuan seperti Tina Toon dan Ni Luh Djelantik, dengan latar belakang dan platform mereka, mewakili bagian penting dari perjuangan ini. Mereka menantang stereotip dan membuktikan bahwa perempuan memiliki kontribusi substansial untuk politik dan pembuatan kebijakan. Melalui karya dan advokasi mereka, kita diajak untuk merenungkan ulang apa artinya menjadi perempuan di arena politik: bukan hanya sebagai objek pandangan tetapi sebagai subjek yang aktif membangun narasi dan realitas baru.
Namun, tidak semua cerita berakhir dengan nuansa positif. Sebagaimana dalam setiap arena, dunia politik juga dihuni oleh individu-individu yang mungkin tidak sepenuhnya memanfaatkan platform mereka untuk perubahan yang berarti. Ada perempuan dalam politik yang, sayangnya, mungkin terlihat lebih fokus pada pencitraan daripada substansi. Mereka mungkin memanfaatkan popularitas atau penampilan untuk mendapatkan suara, tanpa menyertakan agenda nyata atau komitmen untuk mengadvokasi isu-isu penting. Ini bukan untuk menggeneralisasi, tetapi untuk mengakui bahwa seperti dalam setiap kelompok, ada spektrum yang luas.
Contoh yang paling mencolok adalah ketika kita melihat kampanye politik yang lebih menitikberatkan pada kepopuleran di media sosial daripada diskusi mendalam tentang kebijakan. Meskipun kehadiran online yang kuat bisa menjadi alat yang ampuh untuk mencapai pemilih muda, ini seharusnya tidak menggantikan kebutuhan untuk dialog substantif tentang visi dan solusi untuk masalah nyata yang dihadapi masyarakat.
Dalam memilih perwakilan perempuan di politik, ada beberapa kualitas yang penting untuk dipertimbangkan, yang dapat membantu memastikan bahwa kita mendukung kandidat yang benar-benar akan mendorong perubahan positif:
1. Komitmen terhadap Isu: Perempuan yang memiliki rekam jejak yang jelas dalam mengadvokasi isu tertentu, terutama yang berkaitan dengan keadilan sosial dan kesetaraan gender, menunjukkan komitmen yang nyata.
Aksi Bukan Hanya Ikon: Meninjau Representasi Perempuan di Politik pada Hari Perempuan Internasional










