TEHERAN, RadarJakarta.id – Iran resmi memiliki Menteri Pertahanan baru setelah parlemen menyetujui Mehrdad Akhlaghi Ketabchi pada Minggu, 18 Oktober 2026. Tak lama setelah mendapat persetujuan, Akhlaghi melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) jika Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Reuters melaporkan, Akhlaghi disetujui untuk menggantikan Menteri Pertahanan sebelumnya, Aziz Nasirzadeh, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Setelah kematian Nasirzadeh, jabatan tersebut dijalankan sementara oleh Majid Ebn al-Reza.
Dalam pernyataannya kepada anggota parlemen, Akhlaghi memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons besar apabila kembali diserang. Ia juga menyinggung kemungkinan penggunaan bom konvensional terbesar milik AS, GBU-43/B atau Mother of All Bombs, terhadap infrastruktur Iran.
“Jika musuh Amerika melakukan kesalahan perhitungan lagi, respons rakyat Iran dan para pejuang Islam akan mengejutkan dan luas,” demikian pernyataan Akhlaghi yang dilaporkan media internasional.
Akhlaghi merupakan pejabat senior di sektor pertahanan Iran. Ia pernah memimpin Organisasi Industri Dirgantara Iran dan memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi pertahanan, termasuk sektor rudal. Ia juga berada di bawah sanksi AS terkait aktivitasnya di industri pertahanan Iran.
Dalam program kerjanya, Akhlaghi berjanji memperkuat industri pertahanan, mempercepat pengembangan teknologi militer, serta meningkatkan kerja sama dengan perusahaan swasta. Penunjukannya berlangsung hampir delapan bulan setelah konflik AS-Israel dengan Iran dimulai, ketika sejumlah fasilitas dan unsur militer Iran menjadi sasaran serangan.
Di sisi lain, ketegangan antara Washington dan Teheran masih membayangi stabilitas kawasan Timur Tengah. Ancaman Iran tersebut merupakan pernyataan pihak yang terlibat dalam konflik, bukan bukti bahwa serangan baru telah diputuskan atau akan segera terjadi. Perkembangan selanjutnya bergantung pada langkah militer dan diplomatik kedua negara.***











