MOSKOW, Radarjakarta.id – Indonesia merupakan salah satu pasar gim terbesar di dunia. Namun, di balik besarnya jumlah pemain dan konsumsi gim digital, terdapat persoalan yang jauh lebih penting bagi masa depan ekonomi kreatif nasional: seberapa besar nilai ekonomi yang benar-benar dihasilkan dan dinikmati oleh pengembang Indonesia? Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Restya Winda Astari, CEO Agate Academy, saat menjadi pembicara dalam rangkaian Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia.
Dalam presentasinya bertajuk “How Indonesia Game Studios Adopting AI in Development Pipeline”, Restya memperlihatkan kesenjangan antara kekuatan pasar gim Indonesia dan kapasitas penciptaan nilai oleh industri lokal.
Mengutip data Kementerian Komunikasi dan Digital serta Asosiasi Game Indonesia (AGI), materi Restya mencatat nilai pasar gim Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$1,9 miliar, setara hampir Rp30 triliun dengan asumsi kurs Rp15.700 per dolar AS.
Indonesia disebut sebagai pasar gim terbesar di Asia Tenggara dan menempati peringkat ke-16 dunia. Namun, pendapatan pengembang gim lokal pada tahun yang sama diperkirakan baru sekitar US$44 – 50 juta. Resty memperlihatkan bahwa sekitar 99 persen pendapatan konten gim di pasar Indonesia mengalir kepada penyedia konten internasional.
Angka-angka ini menggambarkan persoalan mendasar yang dihadapi ekonomi digital Indonesia: pasar domestik yang besar belum otomatis menghasilkan industri lokal yang sama kuatnya.
“Indonesia memiliki pasar gim yang sangat besar, tetapi terdapat kesenjangan antara konsumsi dan penciptaan nilai oleh pengembang lokal. Karena itu, pembahasan mengenai AI menjadi penting, terutama untuk meningkatkan kemampuan studio Indonesia dalam mengembangkan produk yang mampu bersaing,” demikian pokok pemaparan Restya dalam forum tersebut.
Restya menjelaskan bahwa pengembangan gim merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak disiplin, mulai dari pencarian ide, pembuatan prototipe, praproduksi, produksi, pengujian, hingga peluncuran.
Bagi studio independen dan pengembang berskala kecil, keterbatasan sumber daya menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, ekspektasi pemain terhadap kualitas visual, pengalaman, dan skala permainan terus meningkat.
Dalam kondisi tersebut, AI menawarkan peluang mempercepat proses pengembangan, terutama melalui eksplorasi ide, pembuatan prototipe, bantuan pemrograman, dokumentasi, penelitian, dan pengujian.
Namun, Restya menegaskan dalam materinya bahwa adopsi AI bukanlah penggantian manusia, diaman ia memperkenalkan prinsip “Human → AI → Human”, yakni proses kreatif yang tetap dimulai dari keputusan manusia, memanfaatkan AI sebagai alat bantu, dan kembali kepada manusia untuk evaluasi serta penentuan hasil akhir.
Menurut pemaparannya, AI unggul dalam menghasilkan variasi, mempercepat pekerjaan berulang, membantu pengumpulan informasi, dan mendukung proses teknis.
Sebaliknya, visi kreatif, kepekaan artistik, pemahaman budaya, maksud emosional, penilaian desain, pengendalian mutu, dan tanggung jawab tetap membutuhkan manusia.
Restya juga memaparkan variasi pendekatan studio gim Indonesia dalam mengadopsi AI, berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dirujuk dalam presentasinya.
Sebagian studio mengintegrasikan AI ke berbagai tahapan pengembangan. Sebagian lainnya membatasi penggunaannya pada penelitian, dokumentasi, atau bantuan pemrograman. Ada pula studio yang secara prinsip tidak menggunakan AI untuk menghasilkan aset kreatif utama.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam industri gim bukan sekadar persoalan siapa paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga keputusan mengenai kualitas, identitas karya, dan batas penggunaan yang dianggap tepat.
Dalam diskusi terbuka komunitas Game Developers Indonesia yang turut ditampilkan Restya, penggunaan AI untuk mencari ide, riset, dokumentasi, dan bantuan pemrograman cenderung lebih dapat diterima. Sementara penggunaan AI untuk menggantikan karya seni final, musik, arah kreatif utama, atau keseluruhan proses penciptaan gim memunculkan perdebatan yang lebih besar.
Selain membahas teknologi, Restya memperlihatkan pentingnya pembangunan talenta bagi pertumbuhan industri gim nasional. Dalam presentasinya, Agate menyampaikan pengalaman lebih dari 17 tahun, keterlibatan dalam lebih dari 400 proyek, serta pengembangan lebih dari 60 gim.
Melalui Agate Academy, ekosistem pengembangan talenta yang dipaparkan mencakup lebih dari 7.500 peserta, 345 mitra sekolah dan perguruan tinggi, serta dukungan terhadap lebih dari 30 studio independen.
Berbagai kegiatan tersebut meliputi pelatihan teknis, kompetisi pengembangan gim, inkubasi studio, pelatihan siswa, hingga penguatan kapasitas guru. Restya menempatkan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari upaya mempercepat pertumbuhan ekosistem gim Indonesia.
Di tengah kemajuan AI, persoalan industri bukan hanya bagaimana menghasilkan gim dengan lebih cepat, tetapi bagaimana membangun kemampuan pengembang lokal untuk menghasilkan karya orisinal yang memiliki daya saing.
Dalam salah satu bagian presentasinya, Restya mengajukan pertanyaan mendasar: “When Content Becomes Abundant, What Becomes Valuable?”
Ketika AI membuat produksi konten semakin mudah dan melimpah, apa yang justru menjadi semakin berharga? Jawabannya terletak pada kekayaan intelektual orisinal, visi kreatif, identitas yang khas, keaslian budaya, komunitas, dan kepercayaan.
Pertanyaan tersebut menjadi titik temu dengan pemikiran pembicara Indonesia lainnya dalam forum yang sama, yakni akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS.
Dalam paparannya mengenai hubungan antara AI, bahasa, budaya, dan kemanusiaan, Devie menilai tantangan ekonomi digital Indonesia tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbesar jumlah pengguna teknologi. Menurutnya, negara perlu memperkuat kemampuan masyarakat untuk beralih dari pengguna menjadi pencipta nilai.
“Indonesia memiliki penduduk yang besar, kekayaan budaya yang luar biasa, dan generasi muda yang akrab dengan teknologi. Namun, pertanyaan strategisnya bukan hanya berapa banyak orang Indonesia menggunakan produk digital, melainkan berapa banyak yang mampu menciptakan produk, memiliki kekayaan intelektual, dan memperoleh manfaat ekonomi dari karya tersebut,” ujar Devie.
Peneliti game online ini melihat data industri gim yang dipaparkan Restya sebagai ilustrasi penting mengenai perbedaan antara besarnya konsumsi digital dan kemampuan menciptakan nilai ekonomi lokal.
“Pasar yang besar adalah peluang, tetapi belum tentu merupakan kekuatan industri. Kekuatan baru lahir ketika masyarakat memiliki kemampuan menciptakan, mengembangkan, dan mempertahankan nilai dari produknya sendiri,” jelasnya.
Dalam kerangka pengembangan masyarakat digital, Devie memperkenalkan empat tahapan kemampuan yang perlu diperkuat, yakni Consume, Adapt, Contribute, dan Create.
Pada tahap pertama, masyarakat menggunakan teknologi yang tersedia. Pada tahap berikutnya, mereka mulai menyesuaikannya dengan kebutuhan. Kemudian, mereka berkontribusi terhadap pengembangan pengetahuan dan produk, sebelum akhirnya memiliki kemampuan menciptakan solusi atau karya sendiri.
Menurut Devie, pergeseran tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi inovasi negara lain.
“Selama ini, kita sering bangga ketika jumlah pengguna aplikasi meningkat. Tetapi jumlah pengguna tidak sama dengan jumlah pencipta. Kita harus mulai mengukur berapa banyak anak muda Indonesia yang mampu menghasilkan karya orisinal, membangun perusahaan, dan memiliki produk yang dapat digunakan masyarakat dunia,” ujarnya.
Devie juga menyoroti peluang besar Indonesia dalam mengembangkan kekayaan intelektual berbasis budaya. Menurutnya, industri gim merupakan salah satu sektor yang memiliki kemampuan unik untuk mempertemukan teknologi, seni, bahasa, sejarah, dan pengalaman manusia.
Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau serta ratusan bahasa daerah. Kekayaan tersebut menyediakan sumber inspirasi yang luas bagi pengembangan cerita, karakter, dunia permainan, musik, dan pengalaman interaktif.
Namun, Devie mengingatkan bahwa kekayaan budaya tidak otomatis berubah menjadi nilai ekonomi. “Indonesia tidak kekurangan cerita. Kita memiliki kekayaan legenda, sejarah, bahasa, seni, dan pengetahuan lokal yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kekayaan tersebut menjadi karya yang relevan, menarik, dan mampu dinikmati masyarakat global,” jelas pemberi kuliah umum di Swansea University, Inggris, dengan tema Ekosistem Gim di ASEAN.
Devie menilai pengembang gim Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun identitas kreatif yang berbeda dari produk internasional, tanpa harus mengorbankan kualitas teknologi maupun pengalaman pemain.
“Justru dalam dunia yang semakin dipenuhi konten serupa, keunikan dapat menjadi sumber daya saing. Ketika teknologi membuat semua orang mampu menghasilkan gambar, kemampuan menciptakan dunia, karakter, dan cerita yang memiliki makna menjadi semakin penting,” katanya.
Devie menghubungkan persoalan tersebut dengan gagasan yang disampaikannya di Global Digital Forum mengenai perbedaan antara ketersediaan bahasa dalam AI dan kemampuan masyarakat menggunakan bahasanya untuk menciptakan nilai. Menurutnya, keberhasilan teknologi tidak cukup hanya diukur dari apakah mesin dapat memahami bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah penutur bahasa tersebut memiliki kesempatan untuk ikut membangun produk, menentukan representasi budayanya, dan menikmati manfaat ekonomi dari pengembangannya.
“Jangan sampai bahasa dan budaya kita hanya menjadi bahan yang dipelajari mesin, sementara masyarakat pemilik pengetahuan tersebut tidak memperoleh kesempatan menjadi pencipta,” ujar Devie.
Pengajar tetap UI ini menekankan pentingnya penghormatan terhadap komunitas pemilik pengetahuan budaya, termasuk ketika karya kreatif memanfaatkan tradisi, cerita, atau ekspresi budaya yang memiliki nilai sosial bagi masyarakat asalnya.
Dua Perspektif untuk Masa Depan Industri Kreatif Indonesia
Bagi Devie, pemaparan Restya mengenai pengalaman studio gim Indonesia dan pembahasannya sendiri mengenai AI yang berpusat pada manusia memperlihatkan hubungan erat antara inovasi industri dan pembangunan kemampuan masyarakat.
Industri membutuhkan teknologi untuk mempercepat pengembangan produk. Namun, teknologi juga membutuhkan manusia yang mampu menentukan arah, menjaga kualitas, dan menghasilkan karya yang bermakna.
Menurut Devie, pengalaman industri gim dapat menjadi pembelajaran bagi sektor kreatif lain, termasuk animasi, film, desain, musik, penerbitan, dan komunikasi.
“Ketika AI membuat proses produksi semakin mudah, nilai manusia tidak menghilang. Justru kemampuan manusia untuk memilih, mencipta, memahami budaya, dan mengambil tanggung jawab menjadi semakin penting,” ujarnya.
Devie berharap kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas kreatif dapat memperkuat kemampuan Indonesia menghasilkan lebih banyak karya digital orisinal.
“Jangan sampai kita menjadi bangsa yang paling cepat mengunduh teknologi, tetapi paling lambat menciptakan karya sendiri. Jangan hanya menjadi pasar bagi cerita dunia. Jadikan Indonesia pencipta cerita yang dikenal dunia. Sebab AI dapat membantu manusia menghasilkan jutaan gambar, tetapi manusia tetap menentukan cerita mana yang layak diwariskan. AI dapat mempercepat produksi, tetapi manusia yang memberi makna. Dan teknologi dapat membuka peluang, tetapi kreativitas, budaya, serta keberanian berkarya yang akan menentukan masa depan industri Indonesia,” tutup Devie.










