Rutan Cipinang Jadi Lokasi Uji Keterbacaan Instrumen Perilaku Seksual Berisiko  

Kepala Rutan Kelas I Cipinang I Gusti Lanang Agus Cahya Putra memantau pelaksanaan readability test Instrumen Perilaku Seksual Berisiko yang diikuti 30 WBP. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Cipinang menjadi lokasi pelaksanaan readability test atau uji keterbacaan Instrumen Perilaku Seksual Berisiko yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses penyusunan dan pengembangan instrumen asesmen risiko pemasyarakatan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sebanyak 30 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dilibatkan sebagai peserta untuk menguji sejauh mana setiap pertanyaan dan pernyataan dalam instrumen dapat dipahami dengan baik.

Uji keterbacaan menjadi tahapan penting sebelum sebuah instrumen asesmen digunakan dalam pelaksanaan di lapangan.

Melalui kegiatan ini, penyusun instrumen dapat mengetahui apakah bahasa, istilah, maupun substansi pertanyaan telah disampaikan secara jelas dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Dengan demikian, hasil uji keterbacaan diharapkan dapat membantu meminimalkan potensi bias akibat perbedaan pemahaman responden terhadap pertanyaan yang diberikan.

Dalam pelaksanaannya, tim Direktorat Jenderal Pemasyarakatan melakukan asesmen terhadap 30 WBP yang menjadi peserta readability test. Para peserta diminta memberikan respons terhadap bagian-bagian dalam instrumen sebagai bahan untuk mengukur tingkat keterpahaman setiap butir.

Hasil dari proses tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan instrumen, terutama untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan memiliki struktur bahasa yang jelas, sederhana, dan sesuai dengan karakteristik responden di lingkungan pemasyarakatan.

Kepala Rutan Kelas I Cipinang, I Gusti Lanang Agus Cahya Putra, mengawasi langsung pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia didampingi Kepala Subseksi Administrasi dan Perawatan (Kasubsi Adper), A. Muh. Fachri.

Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara tertib, aman, dan lancar, sekaligus mendukung tim Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memperoleh data yang dibutuhkan dari para peserta uji keterbacaan.

Bagi Rutan Kelas I Cipinang, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya penguatan sistem asesmen di bidang pemasyarakatan. Instrumen yang disusun melalui proses pengujian dan evaluasi diharapkan dapat membantu menghasilkan asesmen yang lebih tepat dan sesuai dengan kondisi warga binaan.

Uji keterbacaan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa yang sederhana, tetapi juga memastikan pesan dan maksud dari setiap pertanyaan dapat diterima secara seragam oleh responden.

Karena itu, keterlibatan langsung WBP dalam proses pengujian menjadi penting. Masukan dari responden dapat memberikan gambaran mengenai bagian-bagian instrumen yang masih berpotensi menimbulkan kebingungan, istilah yang sulit dipahami, maupun pertanyaan yang membutuhkan penyempurnaan.

Dari 30 WBP yang mengikuti kegiatan tersebut, hasil yang diperoleh akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses pengembangan Instrumen Perilaku Seksual Berisiko.

Instrumen yang telah melalui tahapan uji keterbacaan diharapkan memiliki kualitas yang lebih baik sebelum digunakan dalam pelaksanaan asesmen pemasyarakatan pada tahap berikutnya.

Langkah ini sekaligus menunjukkan pentingnya proses pengujian dalam penyusunan instrumen asesmen, sehingga instrumen yang diterapkan tidak hanya memiliki dasar metodologis, tetapi juga dapat dipahami dengan baik oleh warga binaan sebagai responden.

Rutan Kelas I Cipinang pun terus mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas layanan dan sistem asesmen pemasyarakatan.

Kegiatan uji keterbacaan ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap penyempurnaan instrumen asesmen yang lebih jelas, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Dengan adanya hasil evaluasi dari 30 WBP tersebut, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan memiliki bahan masukan untuk melakukan penyempurnaan sebelum Instrumen Perilaku Seksual Berisiko digunakan lebih lanjut dalam proses asesmen di lingkungan pemasyarakatan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.