JAKARTA BARAT, Radarjakarta.id — Ada pertemuan yang terasa singkat, tetapi meninggalkan kenangan panjang. Setelah kurang lebih dua bulan belajar dan mengenal dunia kewartawanan di Jakarta Barat, para mahasiswi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) akhirnya harus mengakhiri perjalanan mereka di Sekretariat Kelompok Kerja (Pokja) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Wali Kota Jakarta Barat.
Jumat (18/9/2026) menjadi hari yang berbeda. Bukan lagi tentang bagaimana mencari bahan berita, memahami proses peliputan, mengumpulkan informasi, atau belajar menyusun sebuah karya jurnalistik. Hari itu menjadi penanda bahwa kebersamaan yang selama dua bulan mereka jalani bersama para wartawan harus sampai pada sebuah kata yang tidak selalu mudah diucapkan: perpisahan.
Tiga mahasiswi dari Program Studi Ilmu Komunikasi Buddha STABN Sriwijaya Tangerang Banten tersebut diantaranya Nadin, Amanda dan Ica secara resmi ditarik pihak kampus melalui Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Acara penarikan berlangsung sederhana di Sekretariat Pokja PWI Wali Kota Jakarta Barat, namun menyimpan makna mendalam bagi mereka yang selama dua bulan telah menjadi bagian dari aktivitas kewartawanan di wilayah Jakarta Barat.
Di tempat itu, mereka perlahan mengenal wajah lain dari ilmu komunikasi. Mereka tidak hanya berhadapan dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga melihat bagaimana seorang wartawan bekerja di lapangan; bagaimana sebuah informasi dicari, dikonfirmasi, ditulis, kemudian disampaikan kepada masyarakat dengan penuh tanggung jawab.
Ketua Pokja PWI Wali Kota Jakarta Barat, Bambang Gatot Subroto, bersama Sekretaris Peri Ryan dan Bendahara Sampurno Agus Rianto, hadir dalam acara pelepasan tersebut. Dosen Pembimbing Lapangan IABN Sriwijaya Tangerang Banten, Arif Budiwinarto, M.I.Kom., turut mendampingi para mahasiswi dalam momen penarikan.
Bambang mengatakan, selama menjalani PPL, para mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengenal langsung “dapur jurnalistik”. Mereka belajar dari proses mencari informasi hingga memahami bagaimana sebuah berita disusun.
“Selama dua bulan, mahasiswa kami ajak terjun langsung masuk ke dapur jurnalistik. Mereka dapat melihat dan merasakan bagaimana proses kerja jurnalistik berlangsung, mulai dari mencari informasi, melakukan peliputan hingga menyusun berita,” ujar Bambang.
Bagi Pokja PWI Jakarta Barat, kehadiran para mahasiswi selama dua bulan bukan sekadar bagian dari program akademik. Kebersamaan itu menjadi ruang berbagi pengalaman antara dunia pendidikan dan dunia kewartawanan. Karena itu, ketika masa PPL berakhir, yang tersisa bukan hanya laporan kegiatan, tetapi juga kenangan tentang hari-hari yang pernah dilalui bersama.
Arif Budiwinarto menyampaikan terima kasih kepada Pokja PWI Wali Kota Jakarta Barat yang telah menerima dan membimbing para mahasiswa selama menjalani PPL. Ia menyebut pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga yang tidak semuanya dapat diperoleh di ruang kelas.
“Atas nama kampus, kami mengucapkan terima kasih kepada Pokja PWI Wali Kota Jakarta Barat yang telah menerima, membimbing, dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa kami selama kurang lebih dua bulan. Banyak pengalaman yang tentunya menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa,” kata Arif.
Ia berharap hubungan yang telah terjalin selama kegiatan PPL dapat terus berlanjut. Bahkan, ada harapan agar mahasiswa dari kampus tersebut kembali mendapatkan kesempatan belajar di lingkungan Pokja PWI Wali Kota Jakarta Barat pada tahun berikutnya.
Harapan itu seolah menjadi pintu kecil yang masih terbuka. Sebab, perpisahan hari itu tidak harus menjadi akhir dari sebuah cerita. Bisa jadi, suatu hari nanti mereka kembali ke tempat yang sama, bukan lagi sebagai mahasiswa PPL, melainkan sebagai pribadi yang telah tumbuh membawa pengalaman dari Jakarta Barat.
Momen tersebut kemudian ditutup dengan foto bersama. Kamera mengabadikan senyum mereka untuk sebuah kenangan yang mungkin kelak akan kembali dicari. Sebuah foto, sebuah ruangan, sejumlah cerita, dan perjalanan dua bulan yang tidak mungkin diulang dengan cara yang sama.
Hari itu mereka pulang membawa banyak hal: pengalaman, pengetahuan, cerita tentang dunia jurnalistik, dan kenangan bersama orang-orang yang telah menemani perjalanan PPL mereka.
Dua bulan memang akhirnya menjadi masa lalu. Namun, bagi mereka yang pernah menjalaninya, kenangan tidak ikut selesai ketika kegiatan berakhir. Ia akan tetap tinggal di dalam cerita, di dalam foto bersama, dan mungkin di dalam kerinduan untuk suatu hari kembali bertemu.
Karena pada akhirnya, tidak semua perpisahan benar-benar berarti kehilangan. Sebagian perpisahan justru mengajarkan bahwa sebuah kebersamaan begitu berharga karena kita tahu, pada waktunya, ia akan berakhir.|Atik IKWI*











