JAKARTA, Radarjakarta.id – PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (PT CTP Tollways) menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri jalan tol nasional dengan menghadiri Rapat Konsolidasi Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) yang digelar di Jakarta. Forum tersebut menjadi wadah strategis bagi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk menyelaraskan langkah menghadapi berbagai tantangan sekaligus merumuskan arah kebijakan sektor jalan tol ke depan.
Dalam rapat tersebut, para anggota ATI membahas sejumlah isu strategis, mulai dari finalisasi Rancangan Peraturan Menteri (Rapermen) tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), integrasi jalan tol, pemanfaatan ruang milik jalan tol (RUMIJA), hingga pengelolaan Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP).
Selain itu, forum juga membahas perkembangan implementasi sistem **Multi Lane Free Flow (MLFF)**, kebijakan diskon tarif tol, serta kajian mengenai selisih pendapatan transaksi jalan tol yang menjadi perhatian para pelaku industri.
Salah satu pembahasan penting dalam rapat adalah pemaparan hasil Post Investment Review 2025 yang menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap iklim investasi di sektor jalan tol. Kajian tersebut mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi BUJT, di antaranya meningkatnya biaya konstruksi serta tekanan terhadap kondisi finansial sebagian badan usaha.
Direktur Utama PT CTP Tollways, Derry Febrian Putra, mengatakan bahwa forum konsolidasi ATI memiliki peran penting dalam menyatukan perspektif antara regulator dan pelaku usaha guna menciptakan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara pelayanan publik dan keberlanjutan investasi.
“Partisipasi PT CTP Tollways dalam Rapat Konsolidasi ATI merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung terciptanya kebijakan yang seimbang antara peningkatan pelayanan publik dan keberlanjutan investasi jalan tol. Kami memandang sinergi antara BUJT, regulator, dan para pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Derry.
Pembahasan mengenai implementasi sistem MLFF juga menjadi perhatian utama. Para peserta menilai kesiapan teknologi, keberlanjutan model bisnis BUJT, serta sosialisasi kepada masyarakat menjadi faktor penting agar transformasi sistem transaksi jalan tol berbasis teknologi tersebut dapat berjalan secara optimal.
Sebagai anggota ATI, PT CTP Tollways menyatakan siap memberikan kontribusi aktif melalui berbagai masukan konstruktif dalam penyusunan kebijakan yang mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus menjaga keberlanjutan investasi infrastruktur jalan tol di Indonesia.
Ke depan, perusahaan akan terus mendukung berbagai inisiatif strategis yang dihasilkan melalui forum ATI, termasuk penguatan Standar Pelayanan Minimal, pengembangan sistem transaksi jalan tol berbasis teknologi, serta optimalisasi pengelolaan jalan tol yang mengedepankan aspek keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan.
Melalui sinergi antara pemerintah, regulator, dan badan usaha, PT CTP Tollways berharap industri jalan tol nasional dapat terus berkembang secara adaptif, kompetitif, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.











