Israel Cegah Kardinal Masuk Gereja, Dunia Bereaksi

banner 468x60

YERUSALEM, Radarjakarta.id – Yerusalem kembali menjadi sorotan dunia. Di tengah memuncaknya konflik kawasan, aparat Israel memicu kontroversi global setelah mencegah Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, memasuki Gereja Makam Suci saat hendak memimpin Misa Minggu Palma momen sakral pembuka Pekan Suci umat Kristen.

Peristiwa yang disebut belum pernah terjadi dalam ratusan tahun ini terjadi tanpa prosesi besar atau kerumunan. Kardinal bersama Kustos Tanah Suci, Francesco Ielpo, dihentikan saat berjalan sederhana menuju gereja. Akibatnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, pemimpin Gereja Katolik gagal memimpin ibadah Minggu Palma di lokasi paling suci bagi umat Kristen.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pihak Patriarkat Latin Yerusalem menyebut insiden ini sebagai “preseden berbahaya” yang mengabaikan perasaan miliaran umat di seluruh dunia. Mereka menilai tindakan tersebut tidak masuk akal, tidak proporsional, dan melanggar prinsip dasar kebebasan beribadah yang selama ini dijaga di kota suci tersebut.

Di sisi lain, otoritas Israel berdalih keputusan itu murni karena alasan keamanan. Sejak pecahnya konflik kawasan pada akhir Februari, pemerintah membatasi seluruh kegiatan publik maksimal 50 orang, termasuk di tempat ibadah. Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan bahwa langkah itu diambil demi melindungi keselamatan Kardinal dan rombongannya, mengingat situs-situs suci disebut berpotensi menjadi target serangan.

Namun, alasan tersebut justru memicu gelombang kritik internasional. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut pelarangan itu “melampaui batas” karena jumlah peserta jauh di bawah batas yang ditetapkan. Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama.

Ketegangan semakin meningkat setelah pihak gereja menegaskan bahwa mereka telah mematuhi seluruh pembatasan sejak awal konflik. Bahkan prosesi tradisional Minggu Palma dari Bukit Zaitun menuju Yerusalem yang biasanya dihadiri ribuan umat telah dibatalkan demi menghormati aturan keamanan.

Insiden ini kini menjadi simbol benturan antara keamanan dan kebebasan beribadah di salah satu kota paling sensitif di dunia. Dengan tekanan global yang terus meningkat, dunia menunggu langkah berikutnya dari Israel: apakah membuka kembali akses ibadah atau justru memperketat kontrol di tengah konflik yang belum mereda.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.