KEBUMEN, Radarjakarta.id — Kebumen berduka. Sebuah video berdurasi singkat yang merekam proses evakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Desa Krakal, Kecamatan Alian, mendadak menggegerkan jagat media sosial. Bukan hanya karena adegannya yang mencekam, tetapi karena tragedi di baliknya: seorang anggota Satpol PP gugur saat menjalankan tugas negara.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Senin (2/2/2026) siang, ketika tim gabungan datang menindaklanjuti laporan warga yang resah atas ulah seorang ODGJ yang kerap mengamuk. Evakuasi yang semula dimaksudkan sebagai langkah kemanusiaan, berubah menjadi tragedi berdarah.
Dalam rekaman video yang viral, terlihat sejumlah petugas mendekati ODGJ tersebut dengan peralatan seadanya. Namun situasi mendadak lepas kendali. Pria yang diduga ODGJ itu tiba-tiba keluar rumah sambil membawa senjata tajam dan benda berbahaya, lalu mengamuk tanpa ampun.
Tak butuh waktu lama, serangan brutal terjadi. Sabetan senjata tajam mengenai leher salah satu petugas Satpol PP, membuat korban roboh bersimbah darah. Korban segera dilarikan ke rumah sakit, namun pendarahan hebat membuat nyawanya tak tertolong.
Korban diketahui bernama Mohammad Faik (33), anggota Satpol PP Kabupaten Kebumen. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen, sekitar 30 menit setelah mendapat penanganan medis intensif.
Video tragedi itu pertama kali diunggah akun Instagram @kebumen24_com dan langsung menyebar luas. Hingga Selasa (3/2/2026), unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 100 ribu kali, menuai ribuan reaksi dan ratusan komentar warganet.
“Kebumen tengah berduka. Seorang anggota Satpol PP gugur saat evakuasi ODGJ di Kecamatan Alian,” tulis akun tersebut.
Namun, di balik ungkapan duka, muncul gelombang kritik tajam dari publik. Banyak warganet mempertanyakan metode evakuasi yang dinilai minim perlindungan dan berisiko tinggi.
“Evakuasi kok pakai bambu, bukan pendekatan medis. Ini malah memperparah emosi,” tulis salah satu warganet.
Tak sedikit pula yang mendesak aparat dan instansi terkait untuk membuka dan mengevaluasi SOP penanganan ODGJ, agar tragedi serupa tak kembali terulang.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, evakuasi dilakukan oleh tim Puskesmas Alian yang melibatkan unsur gabungan: Polsek Alian,
Koramil Alian, Satpol PP, pemerintah desa, serta keluarga pelaku.
“Saat hendak diamankan dan dimasukkan ke ambulans, pelaku justru keluar membawa sabit, pisau daging, dan linggis, lalu melakukan perlawanan,” ujar AKBP Putu dalam keterangan resminya.
Upaya petugas untuk melucuti senjata gagal. Dalam kondisi kacau, pelaku mengejar korban dan mengayunkan sabit hingga menyebabkan luka fatal di bagian leher.
Pelaku diketahui bernama Ruwadi, warga Dukuh Krakal, yang berdasarkan informasi awal diduga merupakan ODGJ. Polisi saat ini masih melakukan pendalaman terhadap seluruh rangkaian peristiwa, termasuk prosedur evakuasi yang dijalankan.
Pasca kejadian, Tim Inafis Satreskrim Polres Kebumen melakukan olah TKP dan menemukan bercak darah di jalan depan rumah serta halaman rumah pelaku. Polisi mengamankan tiga barang bukti utama: satu bilah sabit, satu pisau daging, dan satu linggis.
Kasat Reskrim Polres Kebumen AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata menegaskan, kasus ini ditangani sesuai SOP dan ketentuan hukum yang berlaku. Penyelidikan masih berjalan untuk mengurai seluruh unsur kejadian secara menyeluruh.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi peringatan keras soal keselamatan petugas lapangan dan urgensi evaluasi serius penanganan ODGJ di Indonesia.| Yatmi*











