FFH Januari Soroti Arah Baru Horor Indonesia, “Janur Ireng” Jadi Penanda Tren 2026

FFH Januari Soroti Arah Baru Horor Indonesia, “Janur Ireng” Jadi Penanda Tren 2026
FFH Januari Soroti Arah Baru Horor Indonesia, “Janur Ireng” Jadi Penanda Tren 2026
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Festival Film Horor (FFH) edisi Januari kembali digelar dan memasuki penyelenggaraan keduanya sebagai festival bulanan yang konsisten mengawal perkembangan film horor nasional. Lebih dari sekadar ajang penghargaan, FFH memosisikan diri sebagai ruang diskusi dan refleksi bagi insan perfilman dalam membaca arah dan tantangan genre horor ke depan.

Dalam gelaran kali ini, film Janur Ireng terpilih sebagai Film Terbaik dan menerima Nini Suny Award, sekaligus menandai optimisme baru terhadap tren film horor Indonesia pada 2026 yang dinilai masih memiliki masa depan cerah, asalkan terus berinovasi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sebelum pengumuman pemenang, FFH menggelar diskusi publik bertema “Trend Film Horor 2026” yang menghadirkan Direktur Film Kemendikbud Syaifullah Agam, psikolog dan aktris senior Nini L. Karim, akademisi IKJ Arya Pramasaputra, serta dua sutradara horor Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas.

Diskusi tersebut menyoroti pentingnya keberanian kreator untuk keluar dari pola berulang. Para pembicara sepakat, film horor tidak cukup hanya mengejutkan secara visual, tetapi harus meninggalkan kesan yang bertahan lama di benak penonton.

“Film horor harus menghormati penontonnya. Karya yang baik itu masih teringat dua atau tiga hari setelah keluar dari bioskop,” ujar salah satu pembicara.

Syaifullah Agam mengungkapkan bahwa dalam rentang 2021–2023, film horor bersama genre komedi menjadi tulang punggung perfilman nasional dengan total penonton mencapai lebih dari 128 juta orang. Namun, ia mengingatkan bahwa tren tersebut belakangan mulai menunjukkan penurunan.

“Film horor adalah lokomotif perfilman nasional. Tapi kalau tidak ada terobosan, penonton bisa meninggalkannya, seperti yang pernah terjadi pada genre lain,” katanya.

Pandangan berbeda disampaikan Nini L. Karim yang lebih memilih menyebut horor sebagai film mistik. Menurutnya, film semacam ini tetap harus berpijak pada akal sehat dan mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik penonton.

“Penonton datang dan membayar untuk merasakan takut, tapi ketakutan itu harus masuk akal dan menyentuh rasa,” ujarnya.

Pada malam puncak FFH Januari, sejumlah insan film menerima penghargaan. Selain Janur Ireng sebagai Film Terpilih, Tora Sudiro dinobatkan sebagai Aktor Terpilih dan Kimo Stamboel sebagai Sutradara Terpilih, keduanya lewat film yang sama. Penghargaan Aktris Terpilih diraih Wavi Zihan lewat Qorin 2, sementara kategori DOP/Cameraman Terpilih diberikan kepada Enggar Budiono untuk film Dusun Mayit.

FFH juga memberikan penghargaan khusus kepada Epy Kusnandar atas dedikasi dan pengabdiannya dalam dunia perfilman Indonesia.

Melalui FFH, para pelaku industri berharap film horor Indonesia tidak hanya terus hidup, tetapi juga berkembang secara kualitas dan keberanian artistik di tengah persaingan industri yang kian ketat.

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.