Konflik Ambon 2025: Haidar Alwi Peringatkan, Jangan Jadi Spiral Baru, Maluku Harus Belajar dari Sejarah

banner 468x60

JAKARTA, Tragedi Ambon 2025 bukan sekadar tawuran pelajar. Menurut Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, insiden di SMK Negeri 3 Ambon pada 19 Agustus 2025 itu menjadi alarm keras bagi bangsa. Sekali salah langkah, bara sosial yang seharusnya padam bisa kembali menyala dan mengancam perdamaian Maluku.

“Peristiwa ini adalah alarm bagi bangsa: kita belum sepenuhnya belajar dari sejarah panjang konflik komunal yang pernah melanda Ambon,” tegas Haidar Alwi.

Kronologi Tragis

Tawuran pelajar di Ambon menelan satu korban jiwa. Kabar ini tersebar cepat, memicu bentrokan antarkomunitas di Hunuth dan Hitu. Dalam hitungan jam, belasan rumah terbakar, ratusan warga mengungsi, dan seorang polisi terluka saat menenangkan massa. Pemerintah Kota Ambon mencatat 236 pengungsi, sementara TNI-Polri mengerahkan 350 personel untuk meredam konflik.

Meskipun api berhasil dipadamkan, luka lama masyarakat kembali terbuka.

Luka Lama yang Mudah Tersulut

Haidar Alwi menyoroti tiga faktor pemicu: solidaritas komunal yang kuat, trauma konflik 1999–2004 yang belum sembuh, dan arus informasi liar di media sosial yang memprovokasi massa.

“Ini adalah alarm sosial yang harus dijawab dengan keberanian negara dan kearifan masyarakat,” kata Haidar Alwi.

Bangsa kerap merasa masalah selesai begitu api padam. Padahal, bara tetap menyala di bawah permukaan, dan Ambon menjadi cermin nyata bahwa luka lama mudah kembali terbuka tanpa mekanisme penyembuhan permanen.

Lima Jalan Damai yang Ditawarkan Haidar Alwi

1. Rekonsiliasi lintas agama dan adat – Tokoh GPM, MUI Maluku, dan FKUB menjadi jembatan moral.

2. Pendidikan karakter di sekolah – Kurikulum persaudaraan menggantikan sekadar hukuman disiplin.

3. Keadilan restoratif – Hukum ditegakkan, namun fokus pada pemulihan agar dendam tidak diwariskan.

4. Penguatan ekonomi bersama – Hunuth dan Hitu diikat lewat koperasi nelayan dan pertanian untuk menekan tensi sosial.

5. Forum pemuda lintas desa – Energi anak muda diarahkan pada olahraga, seni, budaya, dan kewirausahaan.

“Jalan damai harus menyentuh akar kehidupan: pendidikan, ekonomi, tokoh moral, hingga ruang kreatif pemuda,” jelas Haidar Alwi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.