Penembakan Massal Serentak di Bangkok dan New York: Dunia Tercekam!

banner 468x60

BANGKOK – NEW YORK, Radarjakarta.id – Dua penembakan massal mengguncang dunia dalam waktu hampir bersamaan pada Senin, 28 Juli 2025, meninggalkan jejak berdarah di Bangkok, Thailand, dan Manhattan, New York. Dunia kembali dihadapkan pada wajah paling gelap dari peradaban: kekerasan bersenjata yang tak terkendali dan mematikan.

Bangkok Mencekam: 6 Tewas di Pasar Elit Or Tor Kor

Suasana mencekam menyelimuti kawasan pasar elite Or Tor Kor, Bangkok, setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan membabi buta, menewaskan sedikitnya enam orang, lima di antaranya petugas keamanan pasar. Pelaku juga ditemukan tewas di lokasi, diduga bunuh diri usai aksinya.

Pasar Or Tor Kor dikenal dunia karena kualitas buah-buahan dan makanan lautnya yang premium. Ironisnya, lokasi prestisius itu berubah menjadi arena maut hanya dalam hitungan menit.

“Kami masih menyelidiki identitas dan motif pelaku,” ungkap juru bicara Kepolisian Thailand.
“Ini bukan insiden kriminal biasa. Ada indikasi perencanaan matang.”

Kepemilikan senjata api di Thailand tergolong tinggi untuk kawasan Asia Tenggara. Meski penembakan massal jarang terjadi, dalam beberapa tahun terakhir Thailand mengalami peningkatan kekerasan bersenjata yang mengkhawatirkan.

Yang mencengangkan, peristiwa ini tidak melibatkan satu pun turis asing, namun tetap mengguncang citra Thailand sebagai destinasi aman bagi wisatawan dunia.

Manhattan Berdarah: Serangan ke Gedung Pencakar Langit, 4 Tewas

Di belahan dunia lain, hanya berselang beberapa jam dari insiden Bangkok, kota Manhattan, New York, berubah menjadi zona konflik ketika seorang pria bersenjata berat melepaskan tembakan brutal ke dalam sebuah gedung pencakar langit di Park Avenue.

Pelaku, Shane Tamura (27), diduga menargetkan kantor National Football League (NFL) sebagai bentuk protes atas penyakit otak kronis (CTE) yang ia yakini berasal dari pengalaman bermain sepak bola di masa mudanya.

Dalam catatan tiga halaman yang ditemukan di dompetnya, Tamura menulis:
“CTE menghancurkan hidup saya. Saya minta maaf. Anda tidak bisa melawan NFL. Mereka akan menghancurkan Anda.”

Tamura menembak mati seorang polisi imigran asal Bangladesh, melukai seorang pengamat perempuan, serta seorang petugas keamanan, sebelum salah masuk ke kantor manajemen gedung dan menembak karyawan lain hingga tewas. Ia akhirnya menembak dirinya sendiri di dada.

Kepolisian menyebut pelaku membawa senapan semi-otomatis dan melakukan perjalanan dari Nevada ke New York dalam misi pribadi berdarah.

Wali Kota New York, Eric Adams, menyebut insiden ini sebagai bentuk kegagalan sistem kesehatan mental dan keamanan nasional.

Sementara itu, mantan Presiden AS, Donald Trump, mengecam keras aksi tersebut, menyebutnya “kegilaan tanpa alasan.”

Dua Tragedi, Satu Peringatan: Dunia Diambang Krisis Kekerasan Bersenjata

Penembakan massal ini menambah daftar panjang tragedi global akibat akses senjata yang longgar, kesehatan mental yang terabaikan, dan sistem pengamanan yang rapuh.

Menurut Gun Violence Archive, Amerika Serikat sendiri telah mencatat 254 penembakan massal sepanjang 2025. Dan kini, Asia pun mulai menunjukkan gejala serupa.

Dari Chatuchak ke Manhattan, dari Thailand ke Amerika darah telah tumpah di dua benua dalam sehari yang sama. Dunia bertanya: sampai kapan?***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.