BONDOWOSO, Radarjakarta.id – Suasana semarak menyelimuti kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Gunungsari, Desa Penanggungan, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jumat (27/6). Ribuan warga tumpah ruah dalam Gebyar Festival Muharram 1447 H, sebuah hajatan tahunan yang tidak hanya sarat makna religius, tapi juga menjadi ruang strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal dan melestarikan budaya.
Festival yang digelar selama tiga hari, 27–29 Juni 2025 ini, menjadi panggung besar bagi para pelaku UMKM desa se-Kecamatan Maesan untuk memamerkan dan menjual produk unggulan mereka. Mulai dari jajanan khas, hasil kerajinan tangan, hingga produk olahan rumahan, semua hadir dalam bazar murah yang menyedot perhatian pengunjung.
Tak hanya itu, Puskesmas Maesan turut hadir dengan layanan cek kesehatan gratis, menambah dimensi sosial dalam gelaran ini. Sejumlah pertunjukan seni daerah dan lomba-lomba meramaikan suasana, menciptakan sinergi antara hiburan dan edukasi budaya bagi generasi muda.
Camat: Festival Ini Untuk Rakyat, Dari Rakyat
Camat Maesan, Dwi Wahyudi S.Sos., MM, dalam sambutannya membuka langsung festival dengan penuh apresiasi terhadap kolaborasi lintas desa. Ia menyebut Kepala Desa Penanggungan, Yuni Bagus Mantre, sebagai motor penggerak kegiatan yang konsisten menjaga tradisi ini tetap hidup dan berkembang.
“Festival ini bukan sekadar perayaan, tapi bagian dari pemulihan ekonomi masyarakat dan upaya menghidupkan kembali geliat UMKM pasca pandemi. Forkopimca akan terus hadir mendukung,” tegas Dwi Wahyudi.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk ambil bagian dalam kemeriahan festival, sekaligus menunjukkan bahwa kebangkitan ekonomi bisa berangkat dari gerakan komunitas akar rumput.
Potret Solidaritas dan Inovasi Desa
Kepala Desa Penanggungan, Yuni Bagus Mantre, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kebersamaan antar desa. Ia menekankan bahwa Festival Muharram adalah ruang ekspresi, kolaborasi, dan promosi potensi desa yang selama ini terpendam.
“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh desa yang berpartisipasi. Semangat kita satu: UMKM bangkit, budaya lestari,” ujarnya.
Dari peninjauan yang dilakukan setelah pembukaan, terlihat antusiasme warga memadati stand-stand UMKM. Salah satunya stand Desa Tanahwulan yang membagikan kopi khas Tanahwulan secara gratis. Sementara Desa Pakuniran tampil dengan produk andalannya, dipimpin oleh Kades muda yang dikenal aktif dan inovatif.
Membangun Ekonomi dari Tradisi
Festival Muharram ini membuktikan bahwa event budaya tidak hanya soal perayaan, tapi juga menjadi alat transformasi sosial dan ekonomi. Di tengah sorotan nasional terhadap pentingnya penguatan ekonomi lokal, inisiatif seperti ini menjadi oase bagi pemberdayaan masyarakat desa.
Bondowoso menunjukkan bahwa dengan semangat gotong-royong, tradisi bisa menjadi motor inovasi, dan UMKM bukan sekadar usaha kecil tetapi masa depan ekonomi rakyat.| Bagus Wirawiri *
Gebyar Festival Muharram Maesan Bondowoso: Pesta Rakyat yang Angkat UMKM dan Budaya Lokal










