WONOSOBO, Radarjakarta.id – Sebuah inovasi wisata yang menggegerkan jagat pendidikan ekologis kini hadir di pegunungan Wonosobo: Taman Wisata Edukasi Ekologis Watu Gendhong. Tidak sekadar tempat liburan, taman seluas 18.000 m² ini menjanjikan pengalaman unik yang menggabungkan keindahan alam, sejarah lokal, dan pendidikan ekologis berbasis iman.
Diresmikan pada 26 Maret 2013 oleh Bp. H. Kholiq Arief Ms.I, pejabat Bupati Wonosobo, Watu Gendhong kini menjadi magnet wisata bagi keluarga, pelajar, hingga komunitas pecinta alam. Lokasinya bertetangga dengan Pondok Pesantren Nurun Alannur 2 SMK Nusantara, menambah nilai kearifan lokal dan budaya di kawasan ini.
Mandiri dan Berkelanjutan: Konsep Ekonomi Watu Gendhong
Taman ini bukan sekadar cantik untuk difoto. “Konsepnya mandiri,” jelas tim pengelola. Dengan desain lanskap profesional, pemilihan pohon langka, dan tata letak yang estetis, taman ini dirancang agar mampu membiayai dirinya sendiri. Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar ketrampilan ekologis baru yang praktis dan bermanfaat.
Edukasi Ekologis: Dari Iman ke Aksi Nyata
Watu Gendhong memadukan pendidikan ekologis dengan spiritualitas. Berdasarkan ajaran Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si, taman ini mengajarkan pengunjung untuk peduli pada alam, sesama manusia, dan diri sendiri.
Beberapa kegiatan edukasi yang ditawarkan:
• Pembuatan pupuk organik “JAKABA” (Jamur Keberuntungan Abadi)
• Penanaman pohon langka dan pohon mahoni tepi jalan
• Belajar memilah sampah dan mengendalikan penggunaan plastik
• Outbond untuk membangun kepemimpinan dan soft skill
• Wisata edukatif bagi keluarga untuk mempererat kekeluargaan
Menurut pengelola, edukasi ekologis di taman ini bukan sekadar teori, tetapi membentuk kebiasaan hidup sehari-hari yang ramah lingkungan. Mulai dari hemat energi, pengelolaan sampah, hingga pertanian berkelanjutan.
Watu Gendhong: Sejarah dan Legenda yang Menarik
Nama Watu Gendhong sendiri terinspirasi dari batu tumpukan raksasa berusia ratusan tahun, yang dulu diyakini sebagai rumah Mbah Putri Marinten, figur sakral setempat. Kini lokasi aslinya telah berganti fungsi menjadi pesantren, namun nilai spiritual dan kearifan lokal tetap hidup di taman ini.
Pak Wijo, salah satu saksi sejarah, mengenang Mbah Marinten sebagai sosok wali yang murah hati. Menurut legenda, tempat ini tidak boleh dibangun toilet, untuk menjaga kesucian dan keberadaannya sebagai lokasi spiritual.
Wisata Alam Pegunungan: Edukasi sekaligus Rekreasi
Taman Watu Gendhong menghadirkan pengalaman wisata yang lebih dari sekadar jalan-jalan. Pengunjung dapat:
Menikmati keindahan alam pegunungan dan keanekaragaman ekosistem
Belajar langsung tentang flora, fauna, dan budaya lokal
Menghilangkan stres, memperkuat hubungan keluarga, dan introspeksi diri
Pengelola menekankan bahwa taman ini menjadi sarana pendidikan ekologis bagi semua umur, dengan tujuan memulihkan keseimbangan ekologis: internal, sosial, alami, dan spiritual.
Kesimpulan: Wisata yang Mengubah Cara Pandang
Watu Gendhong bukan sekadar tempat wisata. Ini adalah laboratorium hidup untuk membangun kesadaran ekologis, di mana pendidikan, iman, dan keindahan alam bersatu. Dengan pendekatan inovatif ini, Watu Gendhong menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi, sekaligus menjadi gerakan sosial dan ekologis yang menginspirasi seluruh Indonesia.***











