Warga Sibolga Mulai Kelaparan, Bulog dan Ritel Modern Dijarah

banner 468x60

SUMUT, Radarjakarta.id — Situasi darurat di Sibolga dan Tapanuli Tengah memasuki fase paling krisis sejak banjir bandang dan longsor melumpuhkan wilayah ini. Ribuan warga yang kehilangan akses makanan selama lima hari akhirnya nekat menyerbu Gudang Bulog Sarudik, Indomaret, Alfamart hingga toko sembako pada Sabtu (29/11/2025). Video amatir yang beredar menunjukkan masyarakat menyerbu toko dan gudang logistik, mengambil beras, minyak, telur, hingga barang kebutuhan lainnya demi bertahan hidup.

Aksi massa ini dipicu karena stok makanan di rumah warga telah habis total, sementara bantuan pemerintah dinilai belum merata. “Bukan karena mau merusak, tapi kami lapar. Semua bahan pokok habis, harga di pasar jadi gila-gilaan. Telur satu butir Rp15 ribu, cabai Rp200 ribu per kilo,” ujar Syakila, warga Pandan dengan nada lelah dan marah. Menurutnya, penyaluran bantuan yang lambat dan dianggap tidak adil membuat warga kehilangan kesabaran dan berharap pembagian logistik tidak berdasarkan kedekatan atau prioritas kelompok tertentu.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Gudang Bulog Sarudik menjadi titik paling dramatis dalam rangkaian aksi ini. Pagar dibuka paksa, massa masuk, dan mengosongkan persediaan beras serta minyak goreng. Aparat kepolisian dan TNI yang berada di lokasi tidak dapat menghentikan massa yang kelaparan. Di beberapa kecamatan, toko modern seperti Indomaret, Alfamidi, hingga swalayan Aidodi dilaporkan ludes sebelum sore.

Ketua BNPB Letjen Suharyanto menanggapi kejadian ini dengan menyebut aksi warga bukan kriminalitas, melainkan desakan hidup akibat kondisi darurat. “Tidak ada unsur kekerasan. Mayoritas ibu-ibu hanya ingin membawa pulang makanan untuk keluarga,” tegasnya dalam konferensi pers. Ia memastikan kapal logistik berisi lebih dari 100 ton bantuan akan tiba di Sibolga untuk memulihkan kondisi.

Krisis ini terjadi karena akses logistik lumpuh sejak bencana menerjang pada 24–25 November. Jalan putus, jembatan rusak, listrik padam total, dan jaringan komunikasi terputus membuat Sibolga dan Tapteng seperti kota yang terisolasi. Sementara bantuan dari Medan baru mulai masuk sejak Jumat (28/11/2025), namun belum menjangkau seluruh korban yang tersebar di berbagai titik.

Data BNPB per Minggu (30/11/2025) mencatat jumlah korban terus bertambah. Sebanyak 217 warga dilaporkan meninggal dunia dan 209 lainnya masih hilang. Total pengungsi mencapai puluhan ribu jiwa dan tersebar di sejumlah titik di beberapa kabupaten terdampak. Kondisi ini menjadi salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Sumatera Utara.

Di tengah kekacauan ini, warga berharap satu hal: keadilan distribusi bantuan. “Kami bukan pelaku kriminal. Kami hanya ingin menyelamatkan keluarga. Kalau bantuan datang tepat waktu dan merata, tidak akan ada orang yang ambil risiko sebesar ini,” kata Syakila, menutup dengan harapan wilayahnya segera pulih dan kehidupan kembali normal.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.