JAKARTA, Radarjakarta.id – Jagat media sosial digemparkan oleh video seorang wanita yang tampak lolos dari razia polisi hanya dengan menunjukkan sebuah kartu yang disebutnya “sakti”. Aksi ini terjadi di Bundaran Tugu Juang 2, Kalimantan Barat, dan langsung viral setelah diunggah di akun Instagram pribadinya.
Dalam video berdurasi 51 detik itu, wanita yang dikenal dengan inisial RA, istri Bripka RW, tampak santai saat diminta berhenti petugas. Ia kemudian memperlihatkan kartu yang diduga anggota Bhayangkari sambil berkata:
“Kena razia guys, keluarkan kartu sakti,” serunya percaya diri.
Petugas lalu tersenyum dan meminta kelengkapan surat kendaraan. RA memastikan SIM-nya lengkap dan masih berlaku. Aksinya ini sontak memicu reaksi keras warganet yang mempertanyakan etika penggunaan atribut institusi untuk kepentingan pribadi.
“Boleh deh dirazia ulang nih. Ndak pake sabuk, sambil main HP. Tapi katanya punya ‘kartu sakti’, POLANTAS TAK BERKUTIK!” tulis salah satu netizen.
Warganet lain menyoroti pelanggaran Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 terkait lalu lintas, mulai dari tidak menggunakan sabuk pengaman hingga mengemudi sambil menggunakan ponsel.
Permintaan Maaf Resmi
Tak butuh waktu lama, RA menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram @vha_walli***** pada Sabtu (7/2/2026).
Ia menyadari bahwa videonya menimbulkan kegaduhan dan citra negatif bagi institusi Bhayangkari maupun Polri.
“Saya RA, istri Bripka RW, secara sadar memohon maaf kepada semua pihak atas postingan video saya yang viral dan membuat gaduh,” ujar RA dalam video permintaan maafnya.
Ia menegaskan, aksinya tidak bermaksud menjatuhkan nama baik organisasi, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa.
Pelajaran dari Kontroversi
Kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh anggota keluarga besar institusi negara untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga marwah organisasi.
Aksi pamer ‘hak istimewa’ di ranah publik, meski mungkin tidak menyalahi aturan secara langsung, tetap berdampak pada persepsi publik terhadap profesionalisme aparat dan keluarga mereka.
Netizen terus memperdebatkan motif RA mengunggah video itu, sementara pihak kepolisian menegaskan bahwa aturan di lapangan tetap berlaku tanpa pandang bulu.***











