Viral Video Saiful Mujani Diduga Ajak Gulingkan Prabowo, DPR Angkat Bicara

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang menampilkan pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, yang diduga melontarkan pernyataan kontroversial terkait kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Video tersebut langsung viral dan memicu perdebatan panas di ruang publik.

Dalam potongan video yang beredar luas di platform Instagram dan YouTube, Saiful Mujani disebut-sebut menyampaikan pandangan yang mengarah pada ajakan konsolidasi publik untuk mengganti atau menjatuhkan kekuasaan melalui tekanan gerakan rakyat. Cuplikan ini sontak menuai berbagai tafsir dan dianggap sebagian pihak sebagai pernyataan yang sensitif secara politik.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Video tersebut diduga berasal dari sebuah acara halalbihalal yang turut dihadiri sejumlah pengamat politik. Dalam pernyataannya, Saiful menyoroti efektivitas jalur formal seperti mekanisme politik dan pemakzulan yang menurutnya tidak mudah dijalankan dalam situasi tertentu. Ia kemudian menyinggung bahwa perubahan kekuasaan dalam sejarah, termasuk 1998, terjadi karena tekanan publik yang besar.

Pernyataan itu kemudian memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan legislatif. Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo, angkat bicara dan menilai bahwa ucapan tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Ia menegaskan bahwa mekanisme pemakzulan presiden telah diatur dalam konstitusi dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Firman juga mengingatkan bahwa perubahan kepemimpinan tidak serta-merta menjamin kondisi negara menjadi lebih baik, sehingga setiap tokoh publik harus berhati-hati dalam menyampaikan pandangan agar tidak memicu salah tafsir di masyarakat.

Sementara itu, polemik ini juga mendapat sorotan dari sejumlah pihak lain yang menilai bahwa pernyataan tersebut berisiko memicu ketegangan politik. Kritik juga datang dari Hasan Nasbi yang menilai bahwa narasi tersebut tidak mencerminkan esensi demokrasi yang sehat, serta menekankan pentingnya tanggung jawab dalam menyampaikan opini di ruang publik.

Hingga kini, video tersebut masih terus beredar luas dan menjadi bahan diskusi hangat di media sosial, memicu pro dan kontra di kalangan warganet maupun pengamat politik nasional.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.