Viral! Orientasi Pecinta Alam di Bitung Berujung Kekerasan, Polisi Usut Tuntas

banner 468x60

BITUNG, Radarjakarta.id – Kasus dugaan kekerasan dalam kegiatan orientasi anggota baru komunitas pecinta alam di Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), memicu kehebohan publik. Video viral memperlihatkan sejumlah remaja ditampar hingga ditendang seniornya saat prosesi pengukuhan di kaki Gunung Dua Saudara, Minggu (28/9/2025).

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan kasus ini harus diproses hukum. “Kami mendukung langkah Polres Bitung dan mengingatkan bahwa kegiatan apa pun yang melibatkan anak serta remaja harus menjadi ruang aman, bukan tempat melanggengkan kekerasan,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kronologi Kasus Kekerasan Pecinta Alam di Bitung

Perkara ini mencuat setelah orang tua korban berinisial AA (16), seorang siswa SMA, melapor ke Polres Bitung. Korban pulang dari orientasi Himpunan Penjelajah Alam Terbuka Spizaetus (Himpasus) dengan wajah lebam, bibir pecah, dan bengkak.

Awalnya, AA beralasan luka tersebut akibat gigitan tawon. Namun, sehari kemudian ibunya, Nurdiana, menemukan video di ponsel korban yang memperlihatkan aksi pemukulan dan penendangan bergantian dari panitia orientasi.

“Saya marah besar karena anak saya dipaksa berbohong. Panitia melarang menceritakan apa yang terjadi kepada pihak luar. Ini jelas ada unsur kesengajaan,” tegas Nurdiana.

Tradisi Kekerasan Dibongkar Polisi

Polres Bitung sudah memeriksa delapan orang, termasuk enam panitia orientasi. Hasil pemeriksaan awal membenarkan adanya tindakan fisik yang dianggap sebagai “tradisi” organisasi.

“Mereka mengaku tindakan itu sudah berlangsung sejak beberapa angkatan. Kami masih mendalami unsur pidana dan memeriksa rekaman video,” jelas Kasat Reskrim Polres Bitung AKP Ahmad Anugrah Ari Pratama.

Penyidik menegaskan kasus ini akan diusut tuntas. Gelar perkara akan dilakukan setelah seluruh saksi, termasuk peserta orientasi lain, selesai diperiksa.

DPR RI Desak Evaluasi Total Organisasi Nonformal

Hadrian menambahkan, pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga organisasi nonformal. Ia mendorong semua komunitas, termasuk pecinta alam, untuk menghentikan praktik perpeloncoan.

“Sinergi pemerintah daerah dengan organisasi masyarakat harus diperkuat. Semua kegiatan wajib membangun integritas, bukan merusak martabat manusia,” ujarnya.

Video Viral: Tamparan dan Tendangan Beruntun

Video orientasi pecinta alam di Bitung yang viral di media sosial menunjukkan anggota baru hanya mengenakan topi dan slayer biru, dipaksa berlutut, lalu ditampar berkali-kali dan ditendang ke dada.

Cuplikan ini memicu kemarahan publik dan gelombang desakan agar pihak berwenang memberikan sanksi tegas serta menghentikan tradisi kekerasan dalam organisasi remaja.

Harapan Orang Tua Korban

Nurdiana berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran dan tidak ada lagi korban di masa depan. “Saya ingin polisi memproses sampai tuntas dan menghentikan komunitas seperti ini. Jangan ada lagi anak-anak lain yang menjadi korban kekerasan berkedok tradisi,” tuturnya.****

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.