NTB, Radarjakarta.id — Peredaran tautan bertajuk “Teh Pucuk viral” dan “KKN viral” kembali ramai di media sosial sejak akhir pekan lalu. Istilah tersebut muncul setelah beredarnya potongan video berdurasi sekitar 1 menit 50 detik yang dikaitkan dengan narasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Dalam sejumlah unggahan, video itu disebut-sebut berkaitan dengan kegiatan KKN di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Narasi tersebut bahkan sempat menyeret nama mahasiswa dari Universitas Mataram (Unram).
Namun pihak kampus memastikan informasi itu tidak benar.
Klarifikasi Resmi Kampus
Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unram menegaskan bahwa pemeran dalam video yang beredar bukan mahasiswa mereka. Ketua Satgas PPKS Unram, Joko Jumadi, menyampaikan bahwa video tersebut sudah beredar sejak September 2025 dan tidak direkam di wilayah NTB.
“Kami menegaskan bahwa pemeran dalam video tersebut bukan mahasiswa Unram. Kejadiannya juga bukan di NTB,” ujar perwakilan Satgas dalam keterangan yang dikutip dari Tribun Lombok.
Mahasiswi yang sempat dituding juga telah memberikan klarifikasi terbuka dan membantah keterlibatannya.
Pihak kampus menyatakan terdapat perbedaan ciri fisik dan suara yang cukup jelas antara sosok dalam video dan mahasiswi yang dimaksud.
Asal-usul Istilah “Teh Pucuk Viral”
Istilah “Teh Pucuk viral” muncul karena dalam potongan video terlihat botol minuman yang disebut-sebut sebagai Teh Pucuk. Namun hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari platform video besar maupun pihak perusahaan minuman terkait soal keterkaitan produk tersebut dengan konten yang beredar.
Penggunaan nama produk diduga hanya sebagai judul sensasional untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah klik di media sosial.
Waspadai Risiko Keamanan Digital
Seiring viralnya isu tersebut, berbagai tautan eksternal beredar luas melalui grup percakapan dan kolom komentar. Sejumlah tautan tidak mengarah ke platform resmi, melainkan ke situs pihak ketiga yang meminta pengguna melakukan login ulang atau mengunduh file tertentu.
Pakar keamanan siber menilai pola tersebut identik dengan modus phishing, yakni upaya pencurian data pribadi dan kredensial akun.
Pengguna disarankan tidak mengklik tautan mencurigakan serta memastikan alamat domain sebelum memasukkan informasi pribadi.
Apabila terlanjur mengakses situs yang tidak jelas, pengguna dianjurkan segera mengganti kata sandi akun penting dan mengaktifkan fitur keamanan tambahan.
Imbauan Bijak Bermedia Sosial
Pihak Unram mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Selain berpotensi merugikan pihak tertentu, penyebaran konten tanpa klarifikasi juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum sesuai peraturan yang berlaku.
Fenomena ini kembali menunjukkan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi. Publik diharapkan lebih cermat, kritis, dan bertanggung jawab dalam menyikapi isu yang viral di ruang maya.***











