Utang Membengkak, KFC Tutup 19 Gerai dan PHK 400 Karyawan

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id — Bisnis restoran cepat saji KFC di Indonesia tengah menghadapi masa sulit. PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), selaku pengelola KFC, mencatat kerugian hingga Rp 138,75 miliar pada semester I 2025. Tak hanya itu, beban utang juga melonjak menjadi Rp 3,97 triliun, naik signifikan dari Rp 3,40 triliun pada akhir 2024.

Utang Kian Berat karena Refinancing

Direktur FAST, Wahyudi Martono, menjelaskan lonjakan utang terjadi akibat refinancing atau pembiayaan kembali pinjaman jangka pendek menjadi pinjaman jangka panjang.
“Fasilitas 2024 sudah dibayarkan penuh, lalu diganti dengan fasilitas baru yang lebih panjang tenornya. Itu membuat liabilitas meningkat,” terang Wahyudi dalam paparan publik virtual, Kamis (2/10/2025).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Meski dibebani utang besar, KFC mencatat pertumbuhan tipis ekuitas menjadi Rp 129,94 miliar di semester I 2025 dari Rp 127,73 miliar pada Desember 2024. Peningkatan ini ditopang langkah efisiensi, termasuk pengurangan karyawan dan sentralisasi operasional.

19 Gerai Ditutup, 400 Karyawan Terkena PHK

Sepanjang Januari–September 2025, KFC menutup 19 gerai dan melakukan PHK terhadap sekitar 400 pegawai. Namun, manajemen menegaskan sebagian besar penutupan bukan permanen, melainkan strategi relokasi ke lokasi yang dianggap lebih menguntungkan.

“Jika kontrak sewa berakhir atau kinerja outlet tidak membaik, penutupan menjadi langkah realistis. Tetapi di beberapa daerah dengan daya beli bagus, outlet hanya dipindahkan ke lokasi strategis,” ungkap Wahyudi.

KFC berencana membuka gerai baru di wilayah potensial sekaligus mengganti outlet lama yang tidak lagi produktif.

Pendapatan Turun, Daya Beli Melemah

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan KFC turun menjadi Rp 2,40 triliun, dibanding Rp 2,48 triliun pada periode yang sama 2024. Penurunan ini dipicu melemahnya daya beli masyarakat serta dampak panjang pandemi Covid-19 dan boikot pada 2023–2024.

“Transaksi turun tajam karena daya beli melemah. Efek pandemi dan boikot masih terasa hingga sekarang,” kata Wahyudi.

Langkah ke Depan

Meski diterpa badai, manajemen FAST tetap optimistis. Strategi efisiensi, relokasi gerai, dan ekspansi di lokasi potensial diharapkan dapat menekan kerugian dan menjaga posisi KFC sebagai pemain utama restoran cepat saji di Indonesia.

“Momentum akhir tahun biasanya mendorong konsumsi. Kami berharap kinerja bisa lebih baik di paruh kedua 2025,” tegas Wahyudi.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.