Trump Klaim Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, AS Gempur Karakas

banner 468x60

INTERNASIONAL, Radarjakarta.id – Dunia internasional mendadak gempar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim mengejutkan: militer AS disebut telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer berskala besar di Caracas, Sabtu (3/1/2026).

Trump menyebut penangkapan itu dilakukan menyusul serangan militer intensif AS ke ibu kota Venezuela, yang diklaim sebagai langkah tegas untuk menindak kejahatan lintas negara. Menurut pernyataannya, Maduro dan Cilia Flores langsung dibawa ke New York guna menghadapi dakwaan berat terkait perdagangan narkoba internasional dan kejahatan senjata.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sejumlah laporan visual yang beredar pada Minggu (4/1/2026) memperlihatkan sosok Maduro tiba di sebuah pangkalan militer AS di New York.

Ia tampak turun dari pesawat pemerintah Amerika dengan pengawalan ketat agen federal dan FBI, lalu digiring melintasi landasan pacu di bawah pengamanan berlapis. Dari lokasi tersebut, Maduro disebut akan diterbangkan menggunakan helikopter menuju Kota New York untuk menjalani proses hukum.
Klaim penangkapan ini langsung memicu ketegangan serius antara Washington dan Caracas.

Pemerintah Venezuela merespons keras. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, mengecam operasi militer AS sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Ia menuntut pembebasan segera Nicolas Maduro dan Cilia Flores, serta mendesak komunitas global untuk mengecam langkah Amerika Serikat.

Di sisi lain, Washington justru membenarkan operasi tersebut. Pemerintah AS menuding Maduro, Cilia Flores, dan sejumlah elite Venezuela terlibat dalam kejahatan terorganisir skala global, mulai dari narkotika, korupsi, hingga kolusi dengan jaringan kriminal internasional. Tuduhan itu kembali dibantah Caracas, yang menegaskan hanya mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela.

Nama Nicolas Maduro sendiri bukan sosok asing dalam pusaran kontroversi global. Lahir di Caracas pada 23 November 1962, ia memulai hidup sebagai sopir bus dan aktivis serikat pekerja, sebelum meroket dalam politik melalui Revolusi Bolivarian yang dipimpin Hugo Chavez.

Loyalitasnya kepada Chavez mengantarkannya menjadi menteri luar negeri, wakil presiden, hingga akhirnya memenangkan kursi presiden pada 2013.

Sejak berkuasa, Venezuela berada dalam krisis ekonomi berkepanjangan, hiperinflasi, kelangkaan pangan dan obat-obatan, serta eksodus jutaan warganya ke luar negeri.

Kepemimpinan Maduro kerap dituding melanggar HAM, menekan oposisi, dan memanipulasi pemilu klaim yang membuat AS dan sekutu Barat menolak mengakui legitimasinya dan menjatuhkan sanksi berat.

Amerika Serikat bahkan menuduh Maduro berkolusi dengan jaringan kriminal besar seperti Cartel de los Soles, Kartel Sinaloa, hingga Tren de Aragua dalam penyelundupan kokain termasuk yang dicampur fentanyl ke pasar AS. Washington diketahui pernah menaikkan sayembara penangkapan Maduro hingga 50 juta dolar AS.

Klaim penangkapan Maduro kini memantik reaksi global. Rusia, China, dan Iran mengecam keras langkah AS sebagai intervensi brutal, sementara di dalam negeri Venezuela, pendukung Maduro turun ke jalan. Sebaliknya, kelompok oposisi melihat momen ini sebagai titik balik terbesar dalam sejarah politik Venezuela.
Situasi diplomatik AS–Venezuela diperkirakan akan semakin membara.

Dunia menanti: benarkah Maduro kini berada di tangan Amerika, ataukah ini awal babak baru perang klaim politik global?

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.